Pendidikan Agama Kristen Berbasis Keilahian Yesus

Pendidikan Agama Kristen Berbasis Keilahian Yesus

Ajaran Yesus itu Tuhan bukan ajar seseorang namun lebih dari pada itu ajaran Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa Yeus itu TUHAN. Ketuhanan Yesus bukan sejak konsili Nicea 325 namun Para murid menyatakan bahwa Yesus itu TUHAN.
Dalam wikipedia disebutkan bahwa sebagian besar denominasi Kristen, menyatakan atau tepatnya mengajarkan bahwa Yesus itu Putra Allah artinya asalnya dari TUHAN. Yesus itu anak Allah. Apakah Allah itu punya anak? Dalam terminologi Kristen, Anaka Allah adalah ungkapan yang menegaskan makna bahwa Yesus berasal dari TUHAN. Yesus juga diyakini mesias atau Juruselamat manusia. Ia menyelematkan manusia dari dosa.
Dalam wikipedia juga dinyatakan bahwa hampir semua akademisi antikuitas modern setuju bahwa Yesus ada secara historis, dan para sejarawan menganggap bahwa Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) adalah sumber-sumber terbaik untuk meneliti historisitas Yesus.
LAlu apa itu Pendidikan AGama Kristen berbasis keilahian Yesus Kristus?
Maksudnya yakni Pendidikan AGama Kristen tidak dapat dipisahkan dari iman Kristen bahwa Yesus itu Tuhan, atau Pendidikan Agama Kristen yang berbasis Kristologi Atas. Kristologi atas menekankan tentang keilahian Yesus. Dalam pendekatan ini, pelaksanaan PAK di sekolah harus didasarkan pada kuasa nama Yesus. Dalam nama Yesus ada kuasa dan kuasa itu membuat Iblis kalah.
Para Pendidik Kristen yang melaksanakan Pendidikan AGama Kristen di daerah yang lebih banyak pengaruh okultisme dapat mengembangkan Pendidikan Kristen berbasis Kristologi atas atau penekanan pada kelilahian Yesus Kristus. Yesus adalah TUHAN. Dalam nama Yesus ada kuasa.
Pendidikan AGama Kristen yang berbasis keilahian Yesus menolong para guru PAK agar berani mendoakan peserta didik yang dipengaruhi roh jahat dalam kuasa doa dalam nama Yesus. Berdoa dalam keyaikinan iman kepada Yesus adalah Tuhan yang berkuasa. Kuasa-Nya tidak berubah dari zaman ke zaman. Sekarang butuh pendidik Kristen yang bersedia melaksanakan PAK dalam pendekatan Kristologi Atas.
Guru-guru Pendidikan AGama Kristen yang terbiasa membangun keyakinan akan ada kuasa dalam nama Yesus mampu melaksanakan pendidikan Kristen di tempat-tempat yang ditakuti secara ilmu gaib. Hanya menyebut nama Yesus maka kuasa-kuasa gaib itu terguncang dan akan lari meninggalkan tempat dimana sang guru PAK melaksanakan tugas pendidikan Kristen.

Selamat melaksanakan Pendidikan AGama Kristen berbasis Kristologi Atas.

Salam
Pendidikan Agama Kristen di Gereja dan Sekolah

Pendidikan Agama Kristen di Gereja dan Sekolah

Apa itu Pendidikan Agama Kristen di Gereja dan Sekolah? Untuk menjawab pertanyaan ini maka baca artikel ini sampai selesai. Sebab jika tidak selesai membaca maka akan berdampak pada salah persepsi terhadap judul artikel ini. Mari kita mulai dengan bagia pertama dan seterusnya.

1. Pendidikan Agama Kristen di Gereja

Pendidikan Kristen di Gereja dilaksanakan dalam berbagai kategori seperti Sekolah Minggu dan katekisasi. Selain itu melalui khotbah-khotbah yang berbentuk pengajaran doktrin seperti Allah Tritunggal, Yesus Kristus, Roh Kudus, Gereja, Akhir zaman, pengajaran tentang malaikat, pengajaran tentang iblis dan cara kerjanya. Pengajaran tentang ajaran-ajaran sesat. Pengajaran tentang Alkitab adalah firman Allah yang memiliki otoritas untuk mengukur doktrin dan perilaku orang Kristen. Intinya Gereja berperan dalam pendidikan Kristen, baik itu melalui pengajaran maupun keteladanan hidup anggota jemaat yang dapat memberi didikan kepada siswa atau orang yang membutuhkan pendidikan Kristen.
Gereja tidak hanya mendidik melalui pengajaran Kristen tetapi juga melalui kehidupan nyata. Tentang hal ini seorang pakar Pendidikan AGama Kristen yaitu Iris V. Cully menyatakan: “sejak permulaan gereja telah menjadi masyarakat yang mengajar” (Cully, 1995:3).
Pernyataan di atas menegaskan bahwa dimanapun dan kapan saja Gereja merupakan masyarakat yang tetap meneruskan pengajaran. Gereja tidak hanya mengajar tetapi juga melalui keteladanan hidup, baik melalui pendeta atau gembala-gembala sidang, majelis dan anggota jemaat juga dapat menolong siswa dalam nilai-nilai Kristiani. Jadi, Gereja menjadi tempat kedua para siswa mendapat pendidikan Kristen.

Pendidikan Kristen yang dilakukan di Gereja adalah pendidikan yang berporos pada Yesus Kristus. Yesus dalam pelayanan-Nya tidak mengabaikan tugas mengajar. Penulis Injil Matius mencatat 9 kali kata mengajar yang menunjuk pada kegiatan Yesus. Injil Markus mencatat 15 kali, dan Lukas 8 kali. Maka mengajar itu merupakan bagian yang amat penting dalam pelayanan Yesus.
Tempat mengajar Yesus itu berfariasi, yaitu di bait Allah, di rumah ibadat (sinagoge), di pantai danau atau perahu nelayan, di bukit dan di tempat yang datar. Tempat tidak menjadi kendala Yesus melakukan tugas pendidikan. Salah satu tugas pendidikan itu yakni mengajar. Pemahaman ini sesuai dengan pandangan Clementus. Menurut Clementus dalam Robert R Boehlke (2002:106) , pendidikan adalah kata yang dipakai dengan cara yang bermacam-macam. Ada pendidikan dalam arti kata seorang yang sedang dibimbing dan diajar, pendidikan juga merangkum tindakan yang berhubungan dengan tugas membimbing dan mengajar.Selain itu pendidikan menyangkut proses bimbingan dan hal-hal apa saja yang diajarkan. Pendidikan yang diberikan Tuhan merupakan tindakan menyampaikan kebenaran yang akan menuntun seseorang secara benar kepada suatu relasi dengan Tuhan dan kepada usaha mengaplikasikan perilaku suci dalam kehidupan setiap orang.

2. Pendidikan Agama Kristen di Sekolah

Pendidikan Kristen di sekolah didasarkan pada kurikulum yang didalamnya telah ditentukan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator-indikatornya. Dalam kurikulum berbasis KKNI dipakai istilah Capaian Pembelajaran dan indikator Capaian Pembelajaran. Pendidikan Kristen di sekolah memiliki pengaruh yang kuat atas diri siswa di sekolah karena para siswa telah, sedang dan akan menghadapi berbagai pengaruh gerakan yang pada satu sisi dapat menggoyahkan iman, tetapi sisi yang lain dapat memperkaya. Salah satu gerekan yang mempengaruhi dunia pendidikan adalah Gerakan Zaman Baru.

Berdasarkan pemahaman demikian maka penting memahami Pendidikan Kristen yang diselenggarakan di sekolah berdasarkan pendapat-pendapat pendidik Kristen yang diambil dari beberapa literatur Kristen. Berikut ini para pendidik Kristen tentang pendidikan Kristen di sekolah.

Di sekolah, mulai dari satuan pendidikan seperti SD, SMP, SMA/SMK dan universitas seperti Perguruan Tinggi, Institut dan sekolah tinggi, termasuk sekolah tinggi teologi diajarkan tentang apa yang diharapkan dan dituntut oleh suatu kebudayaan”. dapat dilakukan melalui kegiatan mengajar dan memberi teladan (sikap hidup atau perilaku guru yang sesuai dengan ajaran Kristen). Keteladanan adalah cara mendidik melalui perilaku yang baik dari setiap pendidik Kristen atau guru di sekolah yang akan mempengaruhi peserta didik atau siswa di sekolah. Sedangkan mengajar melibatkan pemberdayaan intelek individu untuk meningkatkan tubuh, pikiran dan jiwa. Hal ini tidak berarti bahwa keteladanan tidak melibatkan pikiran dan jiwa. Pikiran sangat diperlukan dalam kehidupan karena dengan pikiran itulah kemudian setiap orang mengaplikasikan apa yang diketahuinya dalam perilaku hidupnya.

Berdasarkan paparan di atas menjadi jelas bahwa dalam pendidikan terdapat dua interaksi yaitu orang dewasa yang dalam konteks sekolah disebut guru dan orang belum dewasa yang dalam konteks sekolah formal disebut peserta didik. Dalam pendidikan Kristen di sekolah dibutuhkan peran guru-guru. Secara keyakinan, peserta didik membutuhkan guru-guru Kristen yang dapat memberi pengajaran dan keteladanan yang baik. Guru adalah mereka yang memiliki tekad dan kemauan tidak pernah berakhir untuk memastikan bahwa semua siswa mengambil kendali dari belajar mereka sendiri dan mencapai potensi maksimum mereka, sambil terus berusaha untuk 'mencapai dan mengajarkan' setiap siswa di bawah perawatan mereka. Guru Kristen mengajar dengan pandangan untuk membuat siswa berkembang menjadi individu yang yang lebih baik. Untuk memahami pokok-pokok pengajaran dalam pendidikan Kristen maka deskripsi berikut ini akan memaparkan pengajaran-pengajaran Kristen dalam berbagai teori tentang Pendidikan Kristen di sekolah.

Adanya Pendidikan Kristen atau pendidikan yang bernafaskan keyakinan Kristen di sekolah memberi faedah-faedah seperti yang disampaikan E. G. Homrighausen dan I.H. Enklaar (1996: 151-152), sbb:
(1) Gereja dapat menyampaikan Injil kepada anak-anak dan pemuda-pemuda yang sukar dikumpulkan dalam PAK gereja sendiri, seperti Sekolah Minggu dan Katekisasi.

(2) Anak-anak yang menerima pendidikan Kristen di sekolah akan merasa bahwa pendidikan umum dan keagamaan ada hubungannya
(3) Meringankan beban biaya Gereja yang harus dikeluarkan untuk pendidikan Kristen di sekolah
(4) Agama mulai menjadi bagian kebudayaan setiap rakyat (Ibid, 151-152)
Sedangkan Pendidikan Agama Kristen di sekolah berbasis karakter kasih Menurut I Korintus 13:4 dengan indikator sbb:

a. Murah hati
b. Tidak cemburu
c. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong
d. Tidak melakukan yang tidak sopan
e. Tidak mencari keuntungan diri sendiri
f. Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (tidak bersedia memaafkan orang yang bersalah padanya)
g. Tidak bersukacita karena ketidak adilan tetapi karena kebenaran
h. Sabar menanggung segala sesuatu





Ciri-ciri pendidikan Kristen

Beberapa ciri yang menandai Pendidikan Agama Kristen dapat dipaparkan sebagai berikut.:
(1). Mempertemukan siswa dengan Tuhan yang berbicara melalui firman-Nya.
Salah satu ciri pendidikan Agama Kristen adalah peserta didik dapat mendengar Tuhan yang berbicara melalui firman-Nya. Melalui pengajaran Alkitab, siswa mendengar suara Tuhan. Alkitab adalah firman tertulis, dan melalui firman tertulis itu seseorang mendengar firman TUHAN.
Pengajaran Pendidikan Agama Kristen mempertemukan kehidupan manusia dalam hal ini anak-anak dengan Firman Tuhan atau dengan Tuhan Yesus sendiri, yang adalah Firman Yonahes 1:1, “Pada mulanya adalah Firman dan firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Dalam Injil Yohanes 1:14, dikatakan bahwa : “Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara dan kita telah melihat kemulianNya” .
Perjumpaannya dengan Yesus, Sang Firman yang hidup, melalui pelajaran Agama Kristen di sekolah, banyak siswa yang pada akhirnya percaya kepada Tuhan Yesus, dan tidak sedikit orang tua yang dahulu menolak Tuhan Yesus secara terang-terangan, akhirnya mengakui dan memberi diri dibaptis.

Apa yang dinyatakan di atas sesuai dengan firman Tuhan: “Sebab firman Allah hidup dan kuat, lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (II Tim. 4:2). Selanjutnya Homrighausen merinci beberapa ciri Pendidikan Agama Kristen sebagai berikut.
(2). Bersifat Partisipasif
Keberhasilan Pendidikan Agama Kristen adalah tergantung dari keterlibatan bersama antara pendidik dan peserta didik. Pendidikan Agama Kristen bukanlah sebuah indoktrinasi tetapi partisipasi. Oleh karena itu semua komponen harus memberi dukungan yang sungguh-sungguh untuk keberhasilan pengajaran itu sendiri.

(2). Terbuka terhadap perubahan

Pendidikan Agama Kristen memiliki sifat terbuka kepada perubahan dan kebutuhan, sehingga bekal pendidikan itu peserta didik mampu memahami dan menempatkan diri secara realistis, kritis dan kreatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Pendidikan agama Kristen tidak boleh membawa peserta didik menjadi introvert melainkan harus ekstrovert, artinya mampu menempatkan dirinya sebagai orang percaya ditengah-tengah lingkungannya.

(3). Berkelanjutan

Ciri khas Pendidikan Agama Kristen adalah berkesinabungan. Pendidikan Agama Kristen tidak pernah selesai dalam arti yang sesungguhnya hingga mencapai kedewasaan iman. Pendidikan Agama Kristen harus terus dikaji ulang agar selalu konteks dengan kebutuhan dan perubahan-perubahan yang terjadi.
(4). Terarah dan terencana
Arah dan tujuan Pendidikan Agama Kristen harus jelas dan terarah dan tidak boleh menyimpang dari tujuan tujuan dasarnya. Tujuan utama adalah agar peserta didik bertumbuh dalam iman, ketaatan akan firman Allah dan mampu mengaplikasikan imannya dalam hidupnya pribadi maupun bersama dengan orang lain.
(5). Manusia Orientet
Selain itu, ada empat tujuan pendidikan Kristen yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Learning to know.
Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan kepada peningkatan pengetahuan yaitu pengetahuan akan Allah dan segala firmanNya, sesama, diri sendiri maupun lingkungannya. Peserta didik haruslah diarahkan kepada pemahaman atas keutuhan ciptaan, bahwa sejak semula Allah telah menciptakan manusia, mahluk-mahluk dan alam yang memiliki saling ketergantungan dan semuanya itu harus dijaga agar tetap harmoni sesuai rencana Allah dalam penciptaan manusia.

2) Learning to do

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki ketrampilan dalam mempraktekkan imannya ditengah-tengah kemajemukan masyarakatnya, bukan menjadi batu sandungan melainkan menjadi berkat bagi sesama dan lingkungannya, bukan menjadi menutup diri melainkan dapat menempatkan dirinya bersama-sama dengan orang lain untuk menghadirkan syalom Allah ditengah-tengah dunia ini.

3) Learning to be

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki jati dirinya dan mampu menyatakan keberadaan dirinya dalam kehidupannya sehari-hari. Dia tidak pesimis melainkan optimis, tidak negatif tapi positif dan menyadari dirinya sangat berharga dimata Tuhan. Dengan demikian dengan sekuat enaga ia dapat menyatakan dirinya dengan berbagai kemampuan yang telah Tuhan berikan kepadanya untuk kepentingan sesama. Peserta didik mampu memahami bahwa ia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi bagi sesama dan lingkungannya.
Untuk itulah ia harus dapat melakukan yang terbaik dalam hidupnya.

4) Learning to live together

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik menyadiri betul bahwa hidup tidak mungkin sendirian. Keberhasilan tidak dapat diraih sendirian, kesejahteraan harus dilakukan secara bersama-sama. Harus dapat dihayati bahwa penerapan dan aplikasi kasih Kristus melampaui batas-batas manusiawi, batas batas agama maupun batas-batas etnis. Inti iman Kristen yang sesungguhnya ialah bahwa ia dapat hidup dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Selanjutnya Nainggolan menyatakan kehadiran Pendidikan Kristen di sekolah harus berdampak bagi terbentuknya peserta didik yang siap dan mampu menghadapi perbedaan perbedaan yang ada pada kehidupan masyarakat dengan tetap setia pada kepercayaan akan Yesus Kristus.
Tujuan sebagaimana yang dideskripsikan di atas memberi kontribusi pelaksanaan pendidikan Kristen di sekolah. Ada pula tujuan pendidikan Kristen yang dirumuskan oleh pemerintah yang dituangkan dalam kurikulum yang dikeluarkan pemerintah Republik Indonesia.

Pendidikan Kristen yang diselenggarakan di sekolah sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam Negara RI, khususnya dalam undang-undang Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah, pendidikan Kristen mendapat tempat penting dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pemerintah mengatur waktu belajar secara formal di sekolah selama 2 (dua) jam pelajaran perminggu untuk penyelenggaraan. Hal ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan sebagai pembinaan kerohanian siswa di sekolah.

Pemerintah telah menyusun Kurikulum Pendidikan Kristen mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Diharapkan melalui kurikulum maka proses pendidikan Kristen di sekolah berlangsung sesuai tujuan yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Kurikulum bukanlah satu-satunya jaminan mutu pendidikan Kristen di sekolah, mutu pendidikan di sekolah ditentukan oleh berbagai komponen seperti; mutu dan kualitas guru, mutu kurikulum, kemampuan peserta didik , sarana dan prasarana serta peraturan dan perundang undangan yang berlaku dan dukungan yang diberikan oleh sekolah tempat dilangsungkannya Pendidikan Kristen.

Pendidikan Kristen merupakan tanggungjawab Gereja dan keluarga Kristen, akan tetapi dalam proses perjalanan sejarah pendidikan, khususnya di Indonesia, pendidikan Kristen telah menjadi tanggungjawab pemerintah. Oleh karena itu maka pemerintah mengeluarkan perangkat-perangkat pelaksanaan proses pendidikan. Salah satunya adalah kurikulum. Kurikulum Pendidikan Kristen sudah beberapa kali mengalami perubahan sesuai dengan kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah. Perubahan kurikulum itu dimulai tahun 1974, kemudian sejak tahun 2004 diberlakukan kurikulum kurikulum berbasis kompetensi. Didalam kurikulum tersebut, materi pengajaran Kristen adalah “mengasihi Allah dan Sesama manusia” atau “Allah Tritunggal dan Karya Allah serta Nilai-nilai Kristiani”.

Salam Edukasi


Pendidikan Agama Kristen Berbasis KKNI

Pendidikan Agama Kristen Berbasis KKNI

Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang dilakukan di Indonesia secara formal dalam satuan pendidikan seperti di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilaksanakan dalam pendekatan kurikulum (tujuan, materi, proses dan evaluasi) yang berbasis K13 Revisi, khususnya di SMK menggunakan kurikukulum berbasis KKNI dengan filosofis yang berbeda tetapi saling memperlaengkapi. Demikian juga pelaksanaan pendidikan Agama Kristen secara formal di perguruan tinggi yang berbentuk universitas, Institut, sekolah tinggi, akademi dan politeknik menggunakan kurikulum berbasis KKNI.
Di sekolah Tinggi Teologi yang tersebar di Indonesia, kini menggunakan kurikulum berbasis KKNI. Menggunakan KKNI di Sekolah Tinggi Teologi mewajibkan para dosen membuat silabus dan Rencana Pembelajaran Semester atau istilah sejenisnya wajib menggunakan silabus dan RPS yang sesuai dengan format kurikulum KKNI.
Dalam konteks demikian, saya menggunakan istilah Pendidikan Agama Kristen berbasis kurikulum KKNI atau kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Menggunakan kurikulum berbasis KKNI membuat dosen harus membuat silabus dan Rencana Pembelajaran Semester dengan komponen-komponen sebagai berikut.

Komponen Silabus Berbasis KKNI


Identitas

Mata Kuliah :
Bobot :
Semester/Prodi :
Dosen :

Capaian Pembelajaran
Sikap
S2
S6
S9
S10
Ketrampilan Umum

KU 2
KU 3
KU 4

Capaian Pembelajaran Prodi:
Sikap :
S2. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,dan etika
S6. Bekerjasama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan;
S9. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri.
S10. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.
Keterampilan Umum
KU 2. Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
KU 3. Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternative solusi secara mandiri dan kelompok.
KU 4. Bertanggungjawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggungjawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.
Pengetahuan
P Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebutsecara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
P1: Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidang perpustakaan digital dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
P2: Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan dalam bidang perpustakaan digital secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
Keterampilan Khusus
KK Mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk ..... (rumuskan sesuai dengan materi Pendidikan Kristen yang akan diajarkan)
KK1: Mampu bertindak sebagai manajer untuk ...... (rumuskan sesuai dengan materi Pendidikan Kristen yang akan diajarkan)
KK5: Mampu berkomunikasi secara efektif.
Capaian Pembelajaran matakuliah:
M Mahasiswa mampu menguasai terori tentang Pendidikan Agama Kristen
M1 = Mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi dan pengertian PAK
M2 = Mahasiswa mampu mempresentasikan Pendidikan Agama Kristen (PAK)
M2 = Mahasiswa mampu membandingkan perkembangan PAK di beberapa Negara
M3 = Mahasiswa mampu melakukan pengajaran Pendidikan Agama Kristen
M4 = Mahasiswa mampu mengunggah dokumen dan sumber informasi PAK.
M5 = Mahasiswa mampu melakukan menganalisa berbagai metode Pengajaran dan mengimplementasi dalam Pendidikan Agama Kristen
M6 = Mahasiswa mampu membuat deskripsi rinci PAK.
Deskripsi Matakuliah
Jelaskan pokok-pokok yang hendak dibahas dalam sebuah mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen di PT
Mata Kuliah ini membahas ..... dalam PAK dan seterusnya
Materi Ajar
Sub Pokok Bahasan

Mau Tahu 5 Rumusan Tujuan PAK Berdasarkan Alkitab?

Rumusan Tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan Bible atau Alkitab adalah rumusan tujuan yang didasarkan pada beberapa ayat Alkitab. Tujuan Pendidikan AGama Kristen adalah perubahan yang diharapkan terjadi dalam diri orang Kristen. Dengan demikian 20 rumusan tujuan dimaksud dapat kami paparkan sebagai berikut.


5 Rumusan Tujuan PAK Berdasarkan Kitab Kejadian

Lima rumusan tujuan Pendidikan Agama Kristen yang saya sampaikan disini dapat diperluas lagi menjadi lebih banyak dari 5 tujuan yang saya sebutkan. kelima tujuan ini menjadi contoh rumusan tujuan Pendidikan Agama Kristen yang didasarkan pada Alkitab. Artinya tujuan PAK dapat dirumuskan berdasarkan Alkitab. Silakan baca lima rumusan tujuan yang saya maksudkan.

1. Kejadian 1:27

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Bila kita merumuskan tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan ayat ini maka rumusan tujuan PAK sbb:

Anak/peserta didik/warga gereja/orang Kristen/bapak/mama menjelaskan dan meyakini manusia sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah.

2. Kejadian 2:15

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Rumusan Tujuan Pendidikan Kristen berdasarkan ayat ini

"Peserta didik mampu menjelaskan tugas manusia di bumi dan menerapkan perintah mengusahakan dan memelihara dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan di mana ia berada"

3. Kejadian 2:16-17

...Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pasti engkau mati."

Rumusan tujuan

Peserta didik mampu menjelaskan larangan dan kebebasan yang diberi TUHAN kepada manusia

4. Kejadian 2:18
TUHAN Allah berfirman:"Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.

Peserta didik dewasa usia pemuda mampu menjelaskan makna penolong yang sepadan dan menerapkan makna penolong sepadan dalam berkeluarga.

5. Kejadian 2:23
"... inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku ..."
Rumusan Tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan ayat ini.

peserta didik dewasa mampu menjelaskan makna ungkapan tulang dari tulangku dan daging dari dagingku dan menerapkannya dalam kehidupan berkeluarga.

Materi pembelajaran dari setiap tujuan di atas dapat dikembangkan dari teks atau ayat Alkitab yang dipakai dan diperluas dengan ayat-ayat yang berkorelasi dengan ayat yang disebutkan dalam setiap rumusan tujuan tersebut. Itu artinya Alkitab sangat kaya dengan topik-topik Pendidikan Agama Kristen.

Rumusan di atas memang tidak ada dalam kurikulum yang dikeluarkan oleh kurikulum standar Pendidikan Agama Kristen yang berlaku di Indonesia. Kurikulum yang dibuat dalam artikel singkat ini adalah usaha individual dalam merumuskan tujuan PAK berdasarkan ayat Alkitab.


Salam
Yonas Muanley







Sukses Pembelajaran Pendidikan Kristen

Sukses Pembelajaran Pendidikan Kristen

Sukses Pembelajaran Pendidikan Kristen dalam artikel ini dihubungkan dengan penjelasan beberapa kata berikut ini. Belajar suskes belajar mesti memperhatikan:

1. Tipe Belajar Kogitif

Guru PAK sama dengan guru pada umumnya, ia mesti memiliki kecakapan mengenal tipe-tipe gaya belajar yang ada pada peserta didik. Gaya belajar ini tentu mempengaruhi hasil belajar Pendidikan Agama Kristen. Itulah sebabnya seorang guru mesti mengenal gaya belajar peserta didik yang diajarnya. Untuk mengetahui gaya belajar peserta didik, guru PAK dapat mempelajari teori teori yang dikemukakan oleh Witkin. Menurut Witkin, ada gaya belajar kognitif. Gaya kognitif ini kemudian dikembangkan lagi menjadi dua bagian gaya kognitif yaitu Field Dependent (FD) dan Field independent (FI). Selanjutnya lihat dalam jurnal ilmiah yang membahas teori ini.

Gaya belajar yang diebutkan di atas tentu dimiliki oleh beberapa peserta didik, sementara yang lain mungkin cocok dengan gaya belajar lain. Jadi, gaya belajar kognitif adalah suatu cara yang khas fungsinya sebagai kegiatan perseptual dan kegiatan intelektual seperti: kemampuan menginterprestasikan, mengklasifikasi, mengubah bentuk informasi intelektual.
Ciri khas tersebut menembus keseluruh tingkah laku baik dalam aspek kognitif maupun dalam aspek afektif. Dengan kata lain, peserta didik yang memiliki gaya belajar kognitif mempunyai karakteristik seperti:

a. Gaya kognitif merupakan dimensi yang dapat menembus ke seluruh tingkah laku baik dalam aspek kognitif maupun aspek afektif. Sifat dapat menembus dan gaya kognitif dapat di taksir dengan metode non verbal aspek perseptual.
b. Gaya kognitif stabil sepanjang waktu. Hal ini disebabkan karena gaya kognitif tersebut telah tertanarn dan gaya meengajar orang tua/masyarakat kepada anak sejak lahir. Gaya mengajar guru seharusnya bervariasi, menyesuaikan dengan gaya kognitif siswa hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya siswa yang di rugikan dalam proses pembelajaran.

Untuk menghadapi peserta didik yang memiliki gaya belajar kognitif, seorang pendidik/guru/dosen perlu menggunakan strategi belajar yang cocok untuk peserta didik yang memiliki gaya belajar kognitif. Salah satu strategi pembelajaran yang cocok untuk menolong peserta didik yaitu strategi kognitif.

2. Belajar sebagai perubahan Perilaku

Belajar adalah proses terbentuknya perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik dalam diri peserta didik. Lalu apa itu belajar sebagai perubahan perilaku. Tentu kita berusaha mengartikan kata "peri dan laku". Kata Peri diartikan cara berbuat, atau kelakuan, atau perbuatan. Sedangkan kata laku diartikan perbuatan, kelakuan, cara menjalankan. Berdasarkan pengertian ini. Belajar sebagai perubahan perilaku didefinisikan sebagai satu proses di mana seseorang/peserta didik mengalami perubahan perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Perubahan perilaku yang dimaksud di atas akan kita hubungkan dengan teori Skiner yang membedakan perilaku menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, perilaku yang dialami (inmate behavior) yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan yang berupa reflex-refleks dan insting-¬insting. Kedua, perilaku operan (operant beihavior) yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
Dalam konteks proses pembelajaran, perubahan perilaku pada peserta didik merupakan perilaku yang di bentuk, perilaku yang diperoleh, perilaku yang di kendalikan oleh pusat kesadaran atau otak atau kognitif dari seorang peserta didik. Perilaku yang dimaksud disini adalah perilaku yang dapat diamati. Jadi, perubahan perilakua adalah keteratuaran tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan tindakan yang dilakukan makluk hidup.Perilaku adalah suatu aksi dan reaksi dan suatu organisme terhadap lingkungannya. Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi.Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indara pendengaran, penciuman dan sebagainya.

3. Perilaku atau sikap (Afektif) Siswa

Sikap merupakan kecendrungan pola tingkah laku individu untuk berbuat sesuatu dengan cara tertantu terhadap orang, benda atau gagasan sikap dapat diartikan sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang objek tertentu dan kencendrungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan cara tertentu. Menurut Robert R. Gaibe, Sikap merupakan kesiapan yang terorganisir yang mengarahkan atau mempergunakan tanggapan individu terhadap objek. Sedangkan menurut Berkowti sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung (favorable) atau tidak mendukung (unforable) terhadap objek tersebut.

4. Hasil Belajar

Sebelum menjelaskan tentang hasil belajar lebih dulu dijelaskan tentang belajar. Belajar adalah proses perobahan (berobahnya) daya penerimaan, kemampuan, daya reaksi, pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, kecakapan dan ketrampilan, serta aspek-aspek lainnya padadiri seseorang individu (siswa). Belajar adalah suatu proses yang terarah pada tujuan tertentu. Jadi belajar merupakan proses yang aktif dan dinamis. Dalam keseluruhan kegiatan belajar, hasil belajar merupakan hal yang sangat menuntukan prestasi belajar siswa di sekolah. Hasil belajar di pengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor dari dalam (faktor internal) dan faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabarata yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan faktor psikologis misalnya kecerdasan, motivasi berprestasi, dan kemampuan kognitif Sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan, dan faktor instrumental.
Untuk mengetahui basil belajar yang dicapai siswa di adakan penilaian (evaluasi).Penilaian dapat di adakan setiap saat selama kegiatan berlangsung, dapat juga diadakan setelah siswa menyelesaikan suatu program pembelajaran dalam waktu tertentu, misalnya setelah caturwulan atau semester.

Pengetahuan adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan ini adalah merupakan proses berpikir yang paling rendah. Pemahaman adalah kemampuan orang, untuk memahami setelah sesuatu itu diketahui dan di ingat. Dengan kata lain memahami penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-kata sendiri. Pemahaman merupakan jenjang berpikir yang setingkat lebih tinggi dan ingatan atau hafalan. Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor yang lain. Sintesis adalah kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berpikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian¬-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjadi suatu pola yangberstruktur atau berbentuk pola bare. Sedangkan penilaian, evaluasi adalah kemampuan jejang berpikir yang paling tinggi dalam ranah kognitif menurut Bloom. Penilaian atau evaluasi di sini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide-ide misalnya jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka is mampu memilih satu pilihan yang ada.

Salam


Disclaimer


Disclaimer for Pendidikan Kristen

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at Contact

Disclaimers for https://dinamikapendidikankristen.blogspot.com/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. https://dinamikapendidikankristen.blogspot.com/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (https://dinamikapendidikankristen.blogspot.com/), is strictly at your own risk. https://dinamikapendidikankristen.blogspot.com/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.

From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.

Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Tuesday, June 19th, 2018
• Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.


Privacy Policy


Privacy Policy for Pendidikan Kristen


At Pendidikan Kristen, accessible from https://dinamikapendidikankristen.blogspot.com/, one of our main priorities is the privacy of our visitors. This Privacy Policy document contains types of information that is collected and recorded by Pendidikan Kristen and how we use it.


If you have additional questions or require more information about our Privacy Policy, do not hesitate to contact us.


Log Files


Pendidikan Kristen follows a standard procedure of using log files. These files log visitors when they visit websites. All hosting companies do this and a part of hosting services' analytics. The information collected by log files include internet protocol (IP) addresses, browser type, Internet Service Provider (ISP), date and time stamp, referring/exit pages, and possibly the number of clicks. These are not linked to any information that is personally identifiable. The purpose of the information is for analyzing trends, administering the site, tracking users' movement on the website, and gathering demographic information.



Google DoubleClick DART Cookie


Google is one of a third-party vendor on our site. It also uses cookies, known as DART cookies, to serve ads to our site visitors based upon their visit to www.website.com and other sites on the internet. However, visitors may choose to decline the use of DART cookies by visiting the Google ad and content network Privacy Policy at the following URL – https://policies.google.com/technologies/ads


Our Advertising Partners


Some of advertisers on our site may use cookies and web beacons. Our advertising partners are listed below. Each of our advertising partners has their own Privacy Policy for their policies on user data. For easier access, we hyperlinked to their Privacy Policies below.



Privacy Policies


You may consult this list to find the Privacy Policy for each of the advertising partners of Pendidikan Kristen. Our Privacy Policy was created with the help of the Free Privacy Policy Generator and the Privacy Policy Generator Online.


Third-party ad servers or ad networks uses technologies like cookies, JavaScript, or Web Beacons that are used in their respective advertisements and links that appear on Pendidikan Kristen, which are sent directly to users' browser. They automatically receive your IP address when this occurs. These technologies are used to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on websites that you visit.


Note that Pendidikan Kristen has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.


Third Party Privacy Policies


Pendidikan Kristen's Privacy Policy does not apply to other advertisers or websites. Thus, we are advising you to consult the respective Privacy Policies of these third-party ad servers for more detailed information. It may include their practices and instructions about how to opt-out of certain options. You may find a complete list of these Privacy Policies and their links here: Privacy Policy Links.


You can choose to disable cookies through your individual browser options. To know more detailed information about cookie management with specific web browsers, it can be found at the browsers' respective websites. What Are Cookies?


Children's Information


Another part of our priority is adding protection for children while using the internet. We encourage parents and guardians to observe, participate in, and/or monitor and guide their online activity.


Pendidikan Kristen does not knowingly collect any Personal Identifiable Information from children under the age of 13. If you think that your child provided this kind of information on our website, we strongly encourage you to contact us immediately and we will do our best efforts to promptly remove such information from our records.


Online Privacy Policy Only


This Privacy Policy applies only to our online activities and is valid for visitors to our website with regards to the information that they shared and/or collect in Pendidikan Kristen. This policy is not applicable to any information collected offline or via channels other than this website.


Consent


By using our website, you hereby consent to our Privacy Policy and agree to its Terms and Conditions.