Pendidikan Agama Kristen di STAKN dan Sekolah Tinggi Teologi

Dinamika Pendidikan Agama Kristen atau dalam tema blog ini saya beri judul Pendidikan yang spesifik yaitu Pendidikan Kristen. Oleh karena itu, dalam artikel ini penulis mendeskripsikan tentang STAKN. STAKN adalah singatan dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri. Di Indonesia ada beberapa STAKN seperti:


1. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Tarutung, kini telah berubah menjadi Institus Agama Kristen Negeri
2. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Ambon, kini telah berubah menjadi Institut Agama Kristen Negeri Ambon
3. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Palangka Raya
4. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja (STAKN Toraja)
5. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang (STAKN Kupang)
6. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Manado (STAKN Manado)
7. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Sentani Papua
8. Seolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa
9. Seolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado (STAK Kristen Lentera Bangsa Manado)
10. Seolah Tinggi Agama Kristen Samarinda (STAK Samarinda)
11. Seolah Tinggi Agama Kristen Wiyata Wacana Pati (STAK Wiyata Wacana Pati)
12. Seolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta
13. Seolah Tinggi Agama Kristen Pais Talaud Sulawesi Utara
14. STAKN adalah singatan dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri. Di Indonesia ada beberapa STAKN seperti:
15. Seolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bhakti
16. Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa Jayapura Papua (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
17. STAK Anak Bangsa





Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi

Sekolah Tinggi Teologi Kristen adalah salah satu bentuk perguruan tinggi di Indonesia. Keberadaan STT di Indonesia telah diakui oleh Negara melalui Izin penyelenggaraan oleh Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen dan Badan Akreditasi Nasional. Artinya setiap penyelenggaraan Sekolah Tinggi Teologi harus mendapat izin penyelenggaraan dari Dirjen Bimas Kristen RI kemudian berdasarkan izin penyelenggaraan tersebut, pengurus STT melanjutkan proses akreditasi di Badan Akreditasi Nasional untuk Perguruan Tinggi. Sekarang setiap STT hanya boleh mnyelenggarakan ujian Skripsi, Tesis, Disertasi dan Wisuda apabila STT telah mendapat Akreditasi oleh BAN PT.
Dengan izin dan akreditasi BAN PT maka tamatan STT dapat bersaing dalam mendapatkan pekerjaan misalnya menjadi pegawai negeri seperti di kantor pemerintah dan mengikuti tes menjadi Polisi dan Tentara. Tentu untuk mereka yang tamat STT dan hendak masuk ke Polisi dan Tentara akan mengikuti prosedur yang berlaku dalam kedua institusi ini. Yang hendak saya sampaikan disini yakni ijazah yang didapatkan dari studi di STT yang terakreditasi BAN PT minimal B, dapat mengikuti tes menjadi pegawai negeri seperti yang saya sebutkan sebelumnya.
Sekarang saya berlanjut ke Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi yang terakreditas BAN PT (Perguruan Tinggi), yakni:

1. STT Filsafat Jakarta (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
2. STT Bethel Petamburan (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
3. STT IKSM Santosa Asih (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
4. Sekolah Tinggi Moriah Tangerang (Menyelenggarakan Program Studi PAK)
5. Sekolah Tinggi Teologi (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
6. STT Pelita Dunia Banten (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
7. STT Pokok ANggur (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
8. STT Huperetes Batam (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
9. STT Cipanas (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
10. STT Sumatera Medan (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
11. STT Arastamar Nias Selatan(Prodi Pendidikan Agama Kristen)
12. Institut Kristen Borneo (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
13. Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
14. Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Ujung Pandang (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
15. Sekolah Tinggi Pentakosta Moat (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
16. STT Banua Niha Keriso Protestan Sundermann Nias (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
17. STT Syalom Nias (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
18. Sekolah Tinggi Teologi Bethani Surabaya (Program Studi PAK)
19. STT Krisba (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
20. STT Anugerah Sinagoge Sumatera Utara (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
21. Sekolah Tinggi Teologi Kingdom Bali (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
22. STT Tabernakel Kemuliaan-Nya (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
23. Sekolah Tinggi Real Batam (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
24. STT SoE Propensi Nusa Tenggara Timur (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
25. Sekolah Tinggi Teologi Renatus Pematang Siantar (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
26. STT Baptis Indonesia (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
27. STT Oikumene Injili Sidikalang
28. STT Krisba Batam (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
29. STT Baptis Medan (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
30. STT STar Luwuk Banggai (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
31. STT Kanaan Nusantara Unggaran (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
32. STT Ekklesia Pontianak (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
33. STT Marturia Tanjung Balai (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
34. Sekolah Tinggi Teologi Diakonos (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
34. STT Imanuel (SETITEL) Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan
35. STT Bethany Surabaya (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
35. STT Pontianak (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
36. STT Gereja Protestan (GPI) Papua (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
37. STT Apolos Manado (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
38. STT Permata Bangsa Barito (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
39. STT Kibaid Makale (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
40. STT Arastamar Merauke Papua (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
41. STT Bandung (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
42. STT Pelita Bangsa (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
43. STT Kadesi Bogor (Prodi Pendidikan Agama Kristen)
44. STT Simpson Ungaran (Prodi Pendidikan Agama Kristen)

Bila ada kesalahan informasi, tolong hubungi saya di Kontak saya, melalui wa: 081388662585 atau email yonasmuanley@gmail.com

Salam

Yonas Muanley
Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi teologi (STT)

Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi teologi (STT)

Dinamika Pendidikan Agama Kristen atau Pendidikan Kristen berusaha membahas judul artikel Pendidikan Agama Kristen di STT. Sekolah Tinggi Teologi atau disingkat STT merupakan salah satu perguruan tinggi berbentuk sekolah tinggi keagamaan dalam Agama Kristen. Di sekolah Tinggi Teologi yang tersebar di seluruh Indonesia menyelenggarakan program Studi Teologi Kependetaan dan Pendidikan Agama Kristen, Misiologi, Kepemimpinan dan beberapa program studi lainnya.

Dalam kurikulum yang berlaku di STT, pendidikan agama Kristen diberi kepada mahasiswa teologi dan pendidikan agama Kristen. Tentu dengan porsi dan kedalaman serta keluasan yang berbeda-beda. Di Program Studi Teologi, Pendidikan Agama Kristen diberi dalam bentuk mata kuliah Pengantar Pendidikan Agama Kristen yang menolong mahasiswa teologi untuk menerapkan ilmu mengajar dalam pelayanan gereja. Tugas yang akan filakukan para mahasiswa program studi Teologi setelah tamat dari STT dan melayani di gereja sebagai seorang pendeta maka ia harus melaksanakan pendidikan katekisasi bagi anggota gereja yang hendak dikatekisasi dan disidi untuk menjadi anggota gereja penuh.
Dengan mengikuti mata kuliah pendidikan agama Kristen maka para mahasiswa program studi teologi belajar dan memiliki pengetahuan dasar untuk mengajar warga gereja setelah mereka menyelesaikan pendidikan sarjana maupun magister serta program doktor di Sekolah Tinggi Teologi.
Sedangkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen akan mempelajari mata kuliah Pendidikan Agama Kristen dalam porsi yang lebih banyak karea program studi sebagai seorang calon pendidik di sekolah formal seperti:
1. SD (Menjadi guru)
2. SMP (menjadi guru)
3. SMA/SMK (menjadi guru)
4. Universitas (menjadi dosen)
5. Sekolah Tinggi (menjadi dosen)
Para mahasiswa program Studi Pendidikan Agama Kristen akan mempelajari materi Pendidikan Agama Kristen dalam sejumlah mata kuliah seperti:
1. Pendidikan Agama Kristen Anak
2. Pendidikan AGama Kristen Remaja
3. Pendidikan Agama Kristen Pemuda
4. Pendidikan Agama Kristen untuk Orang Dewasa
5. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
6. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, seperti menggunakan metode pembelajaran "blended learning" dalam mengajar PAK
7. Psikologi Pendidikan Agama Kristen
8. Teknologi dan Media Pendidikan Agama Kristen
9. Sumber-sumber Belajar Pendidikan Agama Kristen
10. PAK Dalam Masyarakat Multikultural
11. dll
Jadi, Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi adalah pendidikan yang mempersiapkan tenaga pendidik untuk menjadi pendidik di satuan pendidikan formal dan non formal serta menjadi pendidik di Perguruan Tinggi. Sekolah Tinggi Teologi yang saya maksudkan disini yakni sekolah Tinggi Teologi yang telah mendapat Akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional atau BAN PT. Sekolah Tinggi Teologi yang dimaksud seperti:
1. Sekolah Tinggi Teologi yang berada di Tanah papua
2. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Ambon
2.1. Sekolah Tinggi Teologi Bethel Ambon
2.2.
3. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Sulawesi Utara
4. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Sulawesi Selatan
5. Sekolah Tinggi Teologi yang berada di Kalimantan Timur
4. Sekolah Tinggi Teologi yang berada di Kalimantan Barat
5. Sekolah Tinggi Teologi yang berada di Sintang
6. Sekolah Tinggi Teologi di Batamm
7. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Sumatera Utara
7.1. STT Abdi Sabda Medan
8. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Nias
8.1. STT Injili Arastamatar Nias
9. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Bengkulu
11. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Jakarta dan sekitarnya
12. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Jawa Barat
13. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Jawa Tengah
14. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Jawa Timur
15. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Bali
16. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Lombok
17. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Sumba Timur
18. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Kupang NTT
19. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di SoE NTT
20. Sekolah Tinggi Teologi yang ada di Toraja: STT Rantepao dan STAKN Toraja

Salam
Yonas Muanley
Belajar dari Yunus

Belajar dari Yunus

Panggilan Tuhan kepada nabi Yunus merupkan suatu panggilan. khusus yang ditetapkan oleh Allah yang memiliki keunikan tersendiri, dimana ada perbedaan panggilan Tuhan kepada nabi Yunus dengan panggilan Tuhan kepada nabi-nabi yang lain. Dikatakan unik oleh karena panggilan Tuhan yang pertama kepada nabi Yunus, nabi Yunus tidak meresponinya/mentaatinya. Bahkan dengan kehendak dan tindakannya sendiri ia lari dari panggilannya. Dari ketidaktaatan dalam panggilan Tuhan yang pertama akhirnya Tuhan menegur Yunus dengan ketentuan yitu datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus, dan didalam perut ikan itu nabi Yunus masih memiliki hidup meskipun Yunus dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya.

Panggilan menurut Ensiklopedi Alkitab Masa Kini adalah berhubungan dengan panggilan Allah, yaitu suatu tuntutan untuk dikenai sebagai orang kristen. Panggilan tersebut datangnya dari Allah melaiui kabar baik bagi keselamatan dan pengudusan serta iman untuk masuk kedalam kerajaan Allah bagi persekutuan dan pelayanan hidup. Dari pengertian yang dikemukakan diatas, kata “panggilan” berarti ajakan Allah terhadap semua orang percaya untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan tanggungjawab seseorang terhadap penatalayanan.
Dari pernyataan diatas panggilan mengandung hubungan antara, dua pihak yaitu yang memanggil dan yang dipanggil.perlu diketahui bahwa panggilan berbeda dengan perintah, sebab panggilan bersifat ajakan, sedangkan perintah lebih bersifat keharusan atau diwajibkan. Yang memanggil punya maksud tertentu bagi yang dipanggil. Bisa saja menarik, menguntungkan dan tidak segampang mungkin untuk menerima panggilan. Ada panggilan yang bersifat paksaan seperti panggilan untuk menghadap.

Panggilan Tuhan kepada nabi Yunus merupakan panggilan yang menguntungkan, dikatakan menguntungkan oleh karena ia disuruh pergi ke kota Ninewe untuk menyampaikan berita yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi Yunus kepada orang-orang yang ada di kota Ninewe. Panggilan ditujukan kepada orang-orang tertentu, yang lazim dikenal namanya, namun nabi Yunus secara langsung dipanggil oleh Tuhan dengan menyebut namanya (yun 1:2; 3:1). Demikian juga Musa dan Samuel langsung dengan menyebutkan nama mereka (kel 3:4; I Sam 3:4), jadi panggilan bukanlah pengumuman atau suatu hal yang dikhabarkan meialui orang kemudian disampaikan kepada orang yang dipanggil. Panggilan tidak ditujukan kepada sembarang orang atau kesemua orang. Bangunlah, pergilah, dan berserulah (Yunl:2; 3:2) ketiga kata ini sepertinya suatu perintah atau suruhan dibandingkan “Aku mengutus engkau” kalimat ini berbentuk penegasan (Kel 3:10).
Nabi Yunus tidak meresponi panggilan Tuhan yang pertama dan ia merasa kota Ninewe tidak perlu dipulihkan, sebab orang-orang Ninewe bukan umat pilhan Allah dan juga oleh karena bangsa Ninewe adalah bangsa yang kafir, penyembah berhala atau bangsa yang jahat di mata Tuhan, sehingga nabi Yunus berkeinginnan bahwa biarkan saja bangsa kafir itu dibinasakan atau ditunggangbalikkan.
Permintaan mendesak disini bisa dikatakan bahwa orang-orang Ninewe itu kejahatannya sudah sangat memuncak dimata Tuhan sehingga Tuhan mengutus nabinya untuk pergi menyampaikan berita Tuhan. Perilaku penduduk Ninewe sangat jahat sampai ke muka Tuhan. Berarti penduduk Ninewe menambah dosa-dosa, seakan-akan dosa-dosanya membukit sampai masuk ke depan tahta Allah. Maka sudah ada alasan yang cukup jelas untuk menghukum penduduk Ninewe tanpa diberitahukan sebelumnya. Oleh karena rahmat dari Tuhan, maka Allah memberikan kesempatan bagi Ninewe untuk bertobat melalui peringatan yang cukup tajam.

Setiap orang yang mendapat kesempatan yang sama dalam panggilan Tuhan, tetapi reaksi dan tanggapannya belum tentu sama. Oleh sebab itu panggilan sebagai pelayan Allah dapat dilihat dari dua unsur panggilan yaitu: Aktifitas Allah yang memanggil dan ketidaksediaan iman bagi seseorang untuk meresponi atau menjawab panggilan Tuhan. Setiap orang yang merasa terpanggil harus merasa benar-benar siap menerima panggilan Tuhan dan meresponi bukan dengan kehendak hatinya akan tetapi dengan kehendak Allah. Nabi Yunus dalam panggilannya ia tidak menaatinya. Namun dengan tindakannya sendiri pergi ketempat yang sebenarnya tidak diperintahkan oleh Tuhan atau pergi kearah yang berlawanan. Sangat jelas bahwa nabi Yunus tidak mau pergi ketempat yang Tuhan perintahkan, namun Yunus sudah mngetahui kejahatan yang dilakukan oleh penduduk Ninewe yang didalamnya, banyak jiwa. Panggilan Tuhan kepada rasul Paulus ia menyangkal dirinya dan meniggalkan kehidupan yang lama dan mengikut Tuhan. Saat ia mengalami pertobatan Paulus lebih mengutamakan akan panggilannya jika dibandingkan dengan kepentingan pribadinya. Ini merupakan suatu sikap utama bagi pribadinya saat mengambil suatu keputusan didalam melayani Tuhan.
Dari pernyataan diatas bahwa rasul Paulus memberanikan diri dalam meyampaikan Injil kepada saudara-saudari yang masih hidup dalam kegelapan. Paulus ditetapkan oleh Tuhan dan mempunyai sikap yang benar-benar bertanggungjawab atas panggialn Tuhan. Paulus mempunyai suatu keyakinan bahwa dalam menyampaikan Injil bukan karena mengandalkan kebolehannya atau kehebatannya, namun didalam mengabarkan Injil benar-benar paulus mengandalkan Tuhan dan paulus selalu dipimpin oleh kuasa Tuhan. Panggialn itu bukan hanya sekedar memanggil atau menyebut orag kudus tetapi panggilan yang diketahui di sini yaitu panggilan untuk membawa orang-orang percaya menjadi kudus dihadapan Tuhan yang maha suci.
Sebagai hamba Tuhan yang terpanggil hendaklah hidup senantiasa kudus di hadapanNya dan selalu mengandalkannya. Nabi Yunus dipanggil untuk pergi menyampaikan berita kepada penduduk di kota Ninewe yang masih hidup dalam kejahatan dan dengan kuasa Tuhan Ninewe dipimpin melalui nabiNya untuk hidup didalam Tuhan. Jika seseorang yang dipanggil oleh Tuhan hendaklah juga bersikap sadar bahwa dipanggil untuk bertanggungjawab sebagai pemberita Injil/kabar baik. Jadi bukan saja hanya mendengar panggilan itu, kemudian mendiamkan diri, tetapi menerima panggialn ilahi itu dan mau bertanggungjawab dan akan dipimpin kepada kebenaran Tuhan. Hendaknya seorang pelayan sungguh-sungguh menyerahkan diri pada Tuhan dan rela memberi diri untuk melayani didalam pekerjaan Tuhan. Hal ini merupakan suatu sikap yang hendaknya diambil dan merupakan tujuan utama bagi kemuliaan Tuhan. Selain itu harus setia dan lebih mementingkan pelayanan kepada Tuhan diatas segala-galanya.

Pemimpin kristen tidak boleh terpengaruh dengan pola kepemimpinan dunia. Sikap ini diekspresikan dengan menolak pola kepemimpinan tangan besi yang cendrung berkuasa dan ingin besar/terkenal sehingga mengabaikan tanggungjawab yang diabaikan kepadnya, yang dilakukan demi kepentinagn diri sendiri, dan bukan demi kepentingan orang yang dilayani. (Yakob Tomatala, 1997:58). Dalam hal ini, nabi Yunus tidak bermaksud menyombongkan dan meninggikan dirinya sebagai seorang nabi/ penyambung lidah Allah melainkan Yunus meninggikan panggilan yang berasal dari Allah itu. Yunus hanya diberi kuasa untuk menjadi nabi Allah. Nabi Yunus dipanggil oleh Allah untuk melayani orang-orang Ninewe, dimana orang-orang Ninewe hidup dalam kejahatan penyembahan berhala. Oleh sebab itu Allah memerintah nabinya untuk menyampaikan berita pertobatan kepada Ninewe. Dengan membawa berita pertobatan bukan untuk kepentingan dirinya melainkan demi kemuliaan nama Tuhan dan demi keselamatan penduduk Ninewe.

“Memberitakan Injil berarti 'memberitakan kabar baik', terutama-mengenai kemenangan militer yaitu yang terdapat dalam I Sam 31:9. Selain itu juga memberitakan Injil dipakai untuk menceritakan berita kedatangan kerajaan Allah ditengah-tengah manusia, bahwa kuasa Allah susah dinyatakan di muka bumi (Yes 40:9; 60:6; 61:1) jadi “menginjili” dipakai juga untuk menceritakan peristiwa yang luar biasa, bukan berarti dipakai oleh orang untk menganggab dirinya hebat, tetapi dalam Rom 1: 1 bahwa “kabar baik” yang diberitakan adalah berita yang luar biasa dari Allah. Adapun pelaksanaan panggilan terjadi dengan pemasyuran Injil yang diberitakan oleh rasul Paulus kepada orang-orang Korintus (Mat 28: 19, 20).

Melalui pemberitaan Injil nama Allah diberitakan kepada dunia maka bagi siapa yang menerimanya dan percaya kepadanya maka akan di damaikan dengan Allah. Panggilan Allah seperti demikian telah terjadi dalam perjanjian lama dimana panggilan terbatas yaitu kepada beberapa orang saja misalnya Abraham, Isak, dan Yakub atau hanya pada Bangsa Israel. Menurut Rasul Paulus bahwa bagi bangsa lain biarlah Allah yang mengikuti jalannya masing-masing. Jadi hanya Yakublah dan Israellah yang firmannya, ketetapannya-ketetapan dan hukumannya disampaikan,sedangkan Allah tidak berbuat demikian maz. 147; 19-20.
Tindakan Allah terhadap niniwe Allah mengutus nabinya ketempat yang belum pernah mendengar kabar tentang Allah supaya dengan berita pertobatan yang disampaikan dapat berbalik dari perbuatan jahat dan datang pada Allah sebagai sumber keslamatan, dan melalui kemulian Tuhan boleh bangsa-bangsa lain ikut menikmati kemulian Tuhan sebingga firman Tuhan Allah dimasyurkan diseluruh muka bumi.
Dalam panggilan Tuhan Allah menarik orang-orang yang hidup dalam kegelapan agar mereka boleh pindah kepada terang Allah yang ajaib. Melalui pemberiiaan Injil orang-orang dapat menrima Tuhan sebagai Allah penyelamat sebagaimana yang dijelaskan oleh Harun Hadwijono bahwa, “hal itu disebabkan oleh Alkitab, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16) demikian juga menurut alkitab, firman Allah adalah hidup kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun (Ibr. 4:12) yang tidak akan kembali kepada allah dengan sia-sia, tetapi yang akan melaksanakan apa yang dikehendaki Allah (Yes 55:11).

Melalui nabi Yunus Allah membawa orang-orang Ninewe keluar dari dosa kecemaran supaya dipersatukan dengan Kristus. Ninewe diterima oleh Allah dalam Kristus, karena Ninewe juga menjadi milik Kristus dan karena Allah memandang semua bangsa sebagai orang-orang yang diselmatakan dan dikuduskan karena penebusanNya.
Pendidikan Agama Kristen Berbasis Keilahian Yesus

Pendidikan Agama Kristen Berbasis Keilahian Yesus

Ajaran Yesus itu Tuhan bukan ajar seseorang namun lebih dari pada itu ajaran Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa Yeus itu TUHAN. Ketuhanan Yesus bukan sejak konsili Nicea 325 namun Para murid menyatakan bahwa Yesus itu TUHAN.
Dalam wikipedia disebutkan bahwa sebagian besar denominasi Kristen, menyatakan atau tepatnya mengajarkan bahwa Yesus itu Putra Allah artinya asalnya dari TUHAN. Yesus itu anak Allah. Apakah Allah itu punya anak? Dalam terminologi Kristen, Anaka Allah adalah ungkapan yang menegaskan makna bahwa Yesus berasal dari TUHAN. Yesus juga diyakini mesias atau Juruselamat manusia. Ia menyelematkan manusia dari dosa.
Dalam wikipedia juga dinyatakan bahwa hampir semua akademisi antikuitas modern setuju bahwa Yesus ada secara historis, dan para sejarawan menganggap bahwa Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) adalah sumber-sumber terbaik untuk meneliti historisitas Yesus.
LAlu apa itu Pendidikan AGama Kristen berbasis keilahian Yesus Kristus?
Maksudnya yakni Pendidikan AGama Kristen tidak dapat dipisahkan dari iman Kristen bahwa Yesus itu Tuhan, atau Pendidikan Agama Kristen yang berbasis Kristologi Atas. Kristologi atas menekankan tentang keilahian Yesus. Dalam pendekatan ini, pelaksanaan PAK di sekolah harus didasarkan pada kuasa nama Yesus. Dalam nama Yesus ada kuasa dan kuasa itu membuat Iblis kalah.
Para Pendidik Kristen yang melaksanakan Pendidikan AGama Kristen di daerah yang lebih banyak pengaruh okultisme dapat mengembangkan Pendidikan Kristen berbasis Kristologi atas atau penekanan pada kelilahian Yesus Kristus. Yesus adalah TUHAN. Dalam nama Yesus ada kuasa.
Pendidikan AGama Kristen yang berbasis keilahian Yesus menolong para guru PAK agar berani mendoakan peserta didik yang dipengaruhi roh jahat dalam kuasa doa dalam nama Yesus. Berdoa dalam keyaikinan iman kepada Yesus adalah Tuhan yang berkuasa. Kuasa-Nya tidak berubah dari zaman ke zaman. Sekarang butuh pendidik Kristen yang bersedia melaksanakan PAK dalam pendekatan Kristologi Atas.
Guru-guru Pendidikan AGama Kristen yang terbiasa membangun keyakinan akan ada kuasa dalam nama Yesus mampu melaksanakan pendidikan Kristen di tempat-tempat yang ditakuti secara ilmu gaib. Hanya menyebut nama Yesus maka kuasa-kuasa gaib itu terguncang dan akan lari meninggalkan tempat dimana sang guru PAK melaksanakan tugas pendidikan Kristen.

Selamat melaksanakan Pendidikan AGama Kristen berbasis Kristologi Atas.

Salam
Pendidikan Agama Kristen di Gereja dan Sekolah

Pendidikan Agama Kristen di Gereja dan Sekolah

Apa itu Pendidikan Agama Kristen di Gereja dan Sekolah? Untuk menjawab pertanyaan ini maka baca artikel ini sampai selesai. Sebab jika tidak selesai membaca maka akan berdampak pada salah persepsi terhadap judul artikel ini. Mari kita mulai dengan bagia pertama dan seterusnya.

1. Pendidikan Agama Kristen di Gereja

Pendidikan Kristen di Gereja dilaksanakan dalam berbagai kategori seperti Sekolah Minggu dan katekisasi. Selain itu melalui khotbah-khotbah yang berbentuk pengajaran doktrin seperti Allah Tritunggal, Yesus Kristus, Roh Kudus, Gereja, Akhir zaman, pengajaran tentang malaikat, pengajaran tentang iblis dan cara kerjanya. Pengajaran tentang ajaran-ajaran sesat. Pengajaran tentang Alkitab adalah firman Allah yang memiliki otoritas untuk mengukur doktrin dan perilaku orang Kristen. Intinya Gereja berperan dalam pendidikan Kristen, baik itu melalui pengajaran maupun keteladanan hidup anggota jemaat yang dapat memberi didikan kepada siswa atau orang yang membutuhkan pendidikan Kristen.
Gereja tidak hanya mendidik melalui pengajaran Kristen tetapi juga melalui kehidupan nyata. Tentang hal ini seorang pakar Pendidikan AGama Kristen yaitu Iris V. Cully menyatakan: “sejak permulaan gereja telah menjadi masyarakat yang mengajar” (Cully, 1995:3).
Pernyataan di atas menegaskan bahwa dimanapun dan kapan saja Gereja merupakan masyarakat yang tetap meneruskan pengajaran. Gereja tidak hanya mengajar tetapi juga melalui keteladanan hidup, baik melalui pendeta atau gembala-gembala sidang, majelis dan anggota jemaat juga dapat menolong siswa dalam nilai-nilai Kristiani. Jadi, Gereja menjadi tempat kedua para siswa mendapat pendidikan Kristen.

Pendidikan Kristen yang dilakukan di Gereja adalah pendidikan yang berporos pada Yesus Kristus. Yesus dalam pelayanan-Nya tidak mengabaikan tugas mengajar. Penulis Injil Matius mencatat 9 kali kata mengajar yang menunjuk pada kegiatan Yesus. Injil Markus mencatat 15 kali, dan Lukas 8 kali. Maka mengajar itu merupakan bagian yang amat penting dalam pelayanan Yesus.
Tempat mengajar Yesus itu berfariasi, yaitu di bait Allah, di rumah ibadat (sinagoge), di pantai danau atau perahu nelayan, di bukit dan di tempat yang datar. Tempat tidak menjadi kendala Yesus melakukan tugas pendidikan. Salah satu tugas pendidikan itu yakni mengajar. Pemahaman ini sesuai dengan pandangan Clementus. Menurut Clementus dalam Robert R Boehlke (2002:106) , pendidikan adalah kata yang dipakai dengan cara yang bermacam-macam. Ada pendidikan dalam arti kata seorang yang sedang dibimbing dan diajar, pendidikan juga merangkum tindakan yang berhubungan dengan tugas membimbing dan mengajar.Selain itu pendidikan menyangkut proses bimbingan dan hal-hal apa saja yang diajarkan. Pendidikan yang diberikan Tuhan merupakan tindakan menyampaikan kebenaran yang akan menuntun seseorang secara benar kepada suatu relasi dengan Tuhan dan kepada usaha mengaplikasikan perilaku suci dalam kehidupan setiap orang.

2. Pendidikan Agama Kristen di Sekolah

Pendidikan Kristen di sekolah didasarkan pada kurikulum yang didalamnya telah ditentukan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator-indikatornya. Dalam kurikulum berbasis KKNI dipakai istilah Capaian Pembelajaran dan indikator Capaian Pembelajaran. Pendidikan Kristen di sekolah memiliki pengaruh yang kuat atas diri siswa di sekolah karena para siswa telah, sedang dan akan menghadapi berbagai pengaruh gerakan yang pada satu sisi dapat menggoyahkan iman, tetapi sisi yang lain dapat memperkaya. Salah satu gerekan yang mempengaruhi dunia pendidikan adalah Gerakan Zaman Baru.

Berdasarkan pemahaman demikian maka penting memahami Pendidikan Kristen yang diselenggarakan di sekolah berdasarkan pendapat-pendapat pendidik Kristen yang diambil dari beberapa literatur Kristen. Berikut ini para pendidik Kristen tentang pendidikan Kristen di sekolah.

Di sekolah, mulai dari satuan pendidikan seperti SD, SMP, SMA/SMK dan universitas seperti Perguruan Tinggi, Institut dan sekolah tinggi, termasuk sekolah tinggi teologi diajarkan tentang apa yang diharapkan dan dituntut oleh suatu kebudayaan”. dapat dilakukan melalui kegiatan mengajar dan memberi teladan (sikap hidup atau perilaku guru yang sesuai dengan ajaran Kristen). Keteladanan adalah cara mendidik melalui perilaku yang baik dari setiap pendidik Kristen atau guru di sekolah yang akan mempengaruhi peserta didik atau siswa di sekolah. Sedangkan mengajar melibatkan pemberdayaan intelek individu untuk meningkatkan tubuh, pikiran dan jiwa. Hal ini tidak berarti bahwa keteladanan tidak melibatkan pikiran dan jiwa. Pikiran sangat diperlukan dalam kehidupan karena dengan pikiran itulah kemudian setiap orang mengaplikasikan apa yang diketahuinya dalam perilaku hidupnya.

Berdasarkan paparan di atas menjadi jelas bahwa dalam pendidikan terdapat dua interaksi yaitu orang dewasa yang dalam konteks sekolah disebut guru dan orang belum dewasa yang dalam konteks sekolah formal disebut peserta didik. Dalam pendidikan Kristen di sekolah dibutuhkan peran guru-guru. Secara keyakinan, peserta didik membutuhkan guru-guru Kristen yang dapat memberi pengajaran dan keteladanan yang baik. Guru adalah mereka yang memiliki tekad dan kemauan tidak pernah berakhir untuk memastikan bahwa semua siswa mengambil kendali dari belajar mereka sendiri dan mencapai potensi maksimum mereka, sambil terus berusaha untuk 'mencapai dan mengajarkan' setiap siswa di bawah perawatan mereka. Guru Kristen mengajar dengan pandangan untuk membuat siswa berkembang menjadi individu yang yang lebih baik. Untuk memahami pokok-pokok pengajaran dalam pendidikan Kristen maka deskripsi berikut ini akan memaparkan pengajaran-pengajaran Kristen dalam berbagai teori tentang Pendidikan Kristen di sekolah.

Adanya Pendidikan Kristen atau pendidikan yang bernafaskan keyakinan Kristen di sekolah memberi faedah-faedah seperti yang disampaikan E. G. Homrighausen dan I.H. Enklaar (1996: 151-152), sbb:
(1) Gereja dapat menyampaikan Injil kepada anak-anak dan pemuda-pemuda yang sukar dikumpulkan dalam PAK gereja sendiri, seperti Sekolah Minggu dan Katekisasi.

(2) Anak-anak yang menerima pendidikan Kristen di sekolah akan merasa bahwa pendidikan umum dan keagamaan ada hubungannya
(3) Meringankan beban biaya Gereja yang harus dikeluarkan untuk pendidikan Kristen di sekolah
(4) Agama mulai menjadi bagian kebudayaan setiap rakyat (Ibid, 151-152)
Sedangkan Pendidikan Agama Kristen di sekolah berbasis karakter kasih Menurut I Korintus 13:4 dengan indikator sbb:

a. Murah hati
b. Tidak cemburu
c. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong
d. Tidak melakukan yang tidak sopan
e. Tidak mencari keuntungan diri sendiri
f. Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (tidak bersedia memaafkan orang yang bersalah padanya)
g. Tidak bersukacita karena ketidak adilan tetapi karena kebenaran
h. Sabar menanggung segala sesuatu





Ciri-ciri pendidikan Kristen

Beberapa ciri yang menandai Pendidikan Agama Kristen dapat dipaparkan sebagai berikut.:
(1). Mempertemukan siswa dengan Tuhan yang berbicara melalui firman-Nya.
Salah satu ciri pendidikan Agama Kristen adalah peserta didik dapat mendengar Tuhan yang berbicara melalui firman-Nya. Melalui pengajaran Alkitab, siswa mendengar suara Tuhan. Alkitab adalah firman tertulis, dan melalui firman tertulis itu seseorang mendengar firman TUHAN.
Pengajaran Pendidikan Agama Kristen mempertemukan kehidupan manusia dalam hal ini anak-anak dengan Firman Tuhan atau dengan Tuhan Yesus sendiri, yang adalah Firman Yonahes 1:1, “Pada mulanya adalah Firman dan firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Dalam Injil Yohanes 1:14, dikatakan bahwa : “Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara dan kita telah melihat kemulianNya” .
Perjumpaannya dengan Yesus, Sang Firman yang hidup, melalui pelajaran Agama Kristen di sekolah, banyak siswa yang pada akhirnya percaya kepada Tuhan Yesus, dan tidak sedikit orang tua yang dahulu menolak Tuhan Yesus secara terang-terangan, akhirnya mengakui dan memberi diri dibaptis.

Apa yang dinyatakan di atas sesuai dengan firman Tuhan: “Sebab firman Allah hidup dan kuat, lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (II Tim. 4:2). Selanjutnya Homrighausen merinci beberapa ciri Pendidikan Agama Kristen sebagai berikut.
(2). Bersifat Partisipasif
Keberhasilan Pendidikan Agama Kristen adalah tergantung dari keterlibatan bersama antara pendidik dan peserta didik. Pendidikan Agama Kristen bukanlah sebuah indoktrinasi tetapi partisipasi. Oleh karena itu semua komponen harus memberi dukungan yang sungguh-sungguh untuk keberhasilan pengajaran itu sendiri.

(2). Terbuka terhadap perubahan

Pendidikan Agama Kristen memiliki sifat terbuka kepada perubahan dan kebutuhan, sehingga bekal pendidikan itu peserta didik mampu memahami dan menempatkan diri secara realistis, kritis dan kreatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Pendidikan agama Kristen tidak boleh membawa peserta didik menjadi introvert melainkan harus ekstrovert, artinya mampu menempatkan dirinya sebagai orang percaya ditengah-tengah lingkungannya.

(3). Berkelanjutan

Ciri khas Pendidikan Agama Kristen adalah berkesinabungan. Pendidikan Agama Kristen tidak pernah selesai dalam arti yang sesungguhnya hingga mencapai kedewasaan iman. Pendidikan Agama Kristen harus terus dikaji ulang agar selalu konteks dengan kebutuhan dan perubahan-perubahan yang terjadi.
(4). Terarah dan terencana
Arah dan tujuan Pendidikan Agama Kristen harus jelas dan terarah dan tidak boleh menyimpang dari tujuan tujuan dasarnya. Tujuan utama adalah agar peserta didik bertumbuh dalam iman, ketaatan akan firman Allah dan mampu mengaplikasikan imannya dalam hidupnya pribadi maupun bersama dengan orang lain.
(5). Manusia Orientet
Selain itu, ada empat tujuan pendidikan Kristen yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Learning to know.
Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan kepada peningkatan pengetahuan yaitu pengetahuan akan Allah dan segala firmanNya, sesama, diri sendiri maupun lingkungannya. Peserta didik haruslah diarahkan kepada pemahaman atas keutuhan ciptaan, bahwa sejak semula Allah telah menciptakan manusia, mahluk-mahluk dan alam yang memiliki saling ketergantungan dan semuanya itu harus dijaga agar tetap harmoni sesuai rencana Allah dalam penciptaan manusia.

2) Learning to do

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki ketrampilan dalam mempraktekkan imannya ditengah-tengah kemajemukan masyarakatnya, bukan menjadi batu sandungan melainkan menjadi berkat bagi sesama dan lingkungannya, bukan menjadi menutup diri melainkan dapat menempatkan dirinya bersama-sama dengan orang lain untuk menghadirkan syalom Allah ditengah-tengah dunia ini.

3) Learning to be

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik memiliki jati dirinya dan mampu menyatakan keberadaan dirinya dalam kehidupannya sehari-hari. Dia tidak pesimis melainkan optimis, tidak negatif tapi positif dan menyadari dirinya sangat berharga dimata Tuhan. Dengan demikian dengan sekuat enaga ia dapat menyatakan dirinya dengan berbagai kemampuan yang telah Tuhan berikan kepadanya untuk kepentingan sesama. Peserta didik mampu memahami bahwa ia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi bagi sesama dan lingkungannya.
Untuk itulah ia harus dapat melakukan yang terbaik dalam hidupnya.

4) Learning to live together

Pendidikan Agama Kristen haruslah diarahkan agar peserta didik menyadiri betul bahwa hidup tidak mungkin sendirian. Keberhasilan tidak dapat diraih sendirian, kesejahteraan harus dilakukan secara bersama-sama. Harus dapat dihayati bahwa penerapan dan aplikasi kasih Kristus melampaui batas-batas manusiawi, batas batas agama maupun batas-batas etnis. Inti iman Kristen yang sesungguhnya ialah bahwa ia dapat hidup dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Selanjutnya Nainggolan menyatakan kehadiran Pendidikan Kristen di sekolah harus berdampak bagi terbentuknya peserta didik yang siap dan mampu menghadapi perbedaan perbedaan yang ada pada kehidupan masyarakat dengan tetap setia pada kepercayaan akan Yesus Kristus.
Tujuan sebagaimana yang dideskripsikan di atas memberi kontribusi pelaksanaan pendidikan Kristen di sekolah. Ada pula tujuan pendidikan Kristen yang dirumuskan oleh pemerintah yang dituangkan dalam kurikulum yang dikeluarkan pemerintah Republik Indonesia.

Pendidikan Kristen yang diselenggarakan di sekolah sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam Negara RI, khususnya dalam undang-undang Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah, pendidikan Kristen mendapat tempat penting dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pemerintah mengatur waktu belajar secara formal di sekolah selama 2 (dua) jam pelajaran perminggu untuk penyelenggaraan. Hal ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan sebagai pembinaan kerohanian siswa di sekolah.

Pemerintah telah menyusun Kurikulum Pendidikan Kristen mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Diharapkan melalui kurikulum maka proses pendidikan Kristen di sekolah berlangsung sesuai tujuan yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Kurikulum bukanlah satu-satunya jaminan mutu pendidikan Kristen di sekolah, mutu pendidikan di sekolah ditentukan oleh berbagai komponen seperti; mutu dan kualitas guru, mutu kurikulum, kemampuan peserta didik , sarana dan prasarana serta peraturan dan perundang undangan yang berlaku dan dukungan yang diberikan oleh sekolah tempat dilangsungkannya Pendidikan Kristen.

Pendidikan Kristen merupakan tanggungjawab Gereja dan keluarga Kristen, akan tetapi dalam proses perjalanan sejarah pendidikan, khususnya di Indonesia, pendidikan Kristen telah menjadi tanggungjawab pemerintah. Oleh karena itu maka pemerintah mengeluarkan perangkat-perangkat pelaksanaan proses pendidikan. Salah satunya adalah kurikulum. Kurikulum Pendidikan Kristen sudah beberapa kali mengalami perubahan sesuai dengan kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah. Perubahan kurikulum itu dimulai tahun 1974, kemudian sejak tahun 2004 diberlakukan kurikulum kurikulum berbasis kompetensi. Didalam kurikulum tersebut, materi pengajaran Kristen adalah “mengasihi Allah dan Sesama manusia” atau “Allah Tritunggal dan Karya Allah serta Nilai-nilai Kristiani”.

Salam Edukasi


Pendidikan Agama Kristen Berbasis KKNI

Pendidikan Agama Kristen Berbasis KKNI

Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang dilakukan di Indonesia secara formal dalam satuan pendidikan seperti di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilaksanakan dalam pendekatan kurikulum (tujuan, materi, proses dan evaluasi) yang berbasis K13 Revisi, khususnya di SMK menggunakan kurikukulum berbasis KKNI dengan filosofis yang berbeda tetapi saling memperlaengkapi. Demikian juga pelaksanaan pendidikan Agama Kristen secara formal di perguruan tinggi yang berbentuk universitas, Institut, sekolah tinggi, akademi dan politeknik menggunakan kurikulum berbasis KKNI.
Di sekolah Tinggi Teologi yang tersebar di Indonesia, kini menggunakan kurikulum berbasis KKNI. Menggunakan KKNI di Sekolah Tinggi Teologi mewajibkan para dosen membuat silabus dan Rencana Pembelajaran Semester atau istilah sejenisnya wajib menggunakan silabus dan RPS yang sesuai dengan format kurikulum KKNI.
Dalam konteks demikian, saya menggunakan istilah Pendidikan Agama Kristen berbasis kurikulum KKNI atau kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Menggunakan kurikulum berbasis KKNI membuat dosen harus membuat silabus dan Rencana Pembelajaran Semester dengan komponen-komponen sebagai berikut.

Komponen Silabus Berbasis KKNI


Identitas

Mata Kuliah :
Bobot :
Semester/Prodi :
Dosen :

Capaian Pembelajaran
Sikap
S2
S6
S9
S10
Ketrampilan Umum

KU 2
KU 3
KU 4

Capaian Pembelajaran Prodi:
Sikap :
S2. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,dan etika
S6. Bekerjasama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan;
S9. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri.
S10. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.
Keterampilan Umum
KU 2. Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
KU 3. Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternative solusi secara mandiri dan kelompok.
KU 4. Bertanggungjawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggungjawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.
Pengetahuan
P Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebutsecara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
P1: Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidang perpustakaan digital dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
P2: Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan dalam bidang perpustakaan digital secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
Keterampilan Khusus
KK Mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk ..... (rumuskan sesuai dengan materi Pendidikan Kristen yang akan diajarkan)
KK1: Mampu bertindak sebagai manajer untuk ...... (rumuskan sesuai dengan materi Pendidikan Kristen yang akan diajarkan)
KK5: Mampu berkomunikasi secara efektif.
Capaian Pembelajaran matakuliah:
M Mahasiswa mampu menguasai terori tentang Pendidikan Agama Kristen
M1 = Mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi dan pengertian PAK
M2 = Mahasiswa mampu mempresentasikan Pendidikan Agama Kristen (PAK)
M2 = Mahasiswa mampu membandingkan perkembangan PAK di beberapa Negara
M3 = Mahasiswa mampu melakukan pengajaran Pendidikan Agama Kristen
M4 = Mahasiswa mampu mengunggah dokumen dan sumber informasi PAK.
M5 = Mahasiswa mampu melakukan menganalisa berbagai metode Pengajaran dan mengimplementasi dalam Pendidikan Agama Kristen
M6 = Mahasiswa mampu membuat deskripsi rinci PAK.
Deskripsi Matakuliah
Jelaskan pokok-pokok yang hendak dibahas dalam sebuah mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen di PT
Mata Kuliah ini membahas ..... dalam PAK dan seterusnya
Materi Ajar
Sub Pokok Bahasan

Mau Tahu 5 Rumusan Tujuan PAK Berdasarkan Alkitab?

Rumusan Tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan Bible atau Alkitab adalah rumusan tujuan yang didasarkan pada beberapa ayat Alkitab. Tujuan Pendidikan AGama Kristen adalah perubahan yang diharapkan terjadi dalam diri orang Kristen. Dengan demikian 20 rumusan tujuan dimaksud dapat kami paparkan sebagai berikut.


5 Rumusan Tujuan PAK Berdasarkan Kitab Kejadian

Lima rumusan tujuan Pendidikan Agama Kristen yang saya sampaikan disini dapat diperluas lagi menjadi lebih banyak dari 5 tujuan yang saya sebutkan. kelima tujuan ini menjadi contoh rumusan tujuan Pendidikan Agama Kristen yang didasarkan pada Alkitab. Artinya tujuan PAK dapat dirumuskan berdasarkan Alkitab. Silakan baca lima rumusan tujuan yang saya maksudkan.

1. Kejadian 1:27

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Bila kita merumuskan tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan ayat ini maka rumusan tujuan PAK sbb:

Anak/peserta didik/warga gereja/orang Kristen/bapak/mama menjelaskan dan meyakini manusia sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah.

2. Kejadian 2:15

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Rumusan Tujuan Pendidikan Kristen berdasarkan ayat ini

"Peserta didik mampu menjelaskan tugas manusia di bumi dan menerapkan perintah mengusahakan dan memelihara dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan di mana ia berada"

3. Kejadian 2:16-17

...Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pasti engkau mati."

Rumusan tujuan

Peserta didik mampu menjelaskan larangan dan kebebasan yang diberi TUHAN kepada manusia

4. Kejadian 2:18
TUHAN Allah berfirman:"Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.

Peserta didik dewasa usia pemuda mampu menjelaskan makna penolong yang sepadan dan menerapkan makna penolong sepadan dalam berkeluarga.

5. Kejadian 2:23
"... inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku ..."
Rumusan Tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan ayat ini.

peserta didik dewasa mampu menjelaskan makna ungkapan tulang dari tulangku dan daging dari dagingku dan menerapkannya dalam kehidupan berkeluarga.

Materi pembelajaran dari setiap tujuan di atas dapat dikembangkan dari teks atau ayat Alkitab yang dipakai dan diperluas dengan ayat-ayat yang berkorelasi dengan ayat yang disebutkan dalam setiap rumusan tujuan tersebut. Itu artinya Alkitab sangat kaya dengan topik-topik Pendidikan Agama Kristen.

Rumusan di atas memang tidak ada dalam kurikulum yang dikeluarkan oleh kurikulum standar Pendidikan Agama Kristen yang berlaku di Indonesia. Kurikulum yang dibuat dalam artikel singkat ini adalah usaha individual dalam merumuskan tujuan PAK berdasarkan ayat Alkitab.


Salam
Yonas Muanley