Template Pendidikan Kristen

[Update 2020] Mereka yang punya passion di bidang Pendidikan tentu menghabiskan beberapa jam dalam kegiatan pendidikan terstruktur di sekolah seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan SMK mulai pukul 07 - 15.00 atau jam masuk mengajar bisa berbeda-beda. Selain itu pada tingkat perguruan tinggi, para para dosen menghabiskan beberapa jam untuk memberi kuliah dan mengadakan tugas lainnya yang berhubungan dengan tridarma perguruan tinggi. Keputusan hidup untuk membaktikan diri dalam pendidikan tentu membuka peluang untuk berkarya melalui berbagai media untuk menyampaikan pesan-pesan yang berhubungan dengan bidang yang ditekuni. Salah satu media itu yakni website. Ada website yang berbayar atau profesional dan ada pula website atau situs yang bersifat free seperti blog. Para pendidik dapat menggunakan blog dengan memilih template khusus yang berhubungan dengan pendidikan. Dengan memilih template pendidikan, kita membuat situs berbasis blog yang tampil secara profesional.

Blog ini dibuat untuk memposting hal-hal yang berhubungan dengan "pengetahuan yang benar" tentang Pendidikan Agama Kristen dengan menggunakan blogspot sebagai media online. Lalu judul yang saya beri untuk blog ini yakni "Pendidikan Kristen", sedangkan alamat blog yaitu "dinamika Pendidikan Kristen" dengan domain dan hosting dari Blogspot.com
Saya memilih platform blogspot karena sangat mudah menggunakannya, kita dapat membuat tampilan blog lebih profesional dalam penampilan dengan menggunakan template blogger.

Penggunakan template blogger yang cermat akan membuat blog kita seperti blog profesional. Coba Anda perhatikan tampilan blog "Pendidikan Kristen" yang sedang anda kunjungi dan bandingkan dengan situs berbayar dari sisi penampilan situs. Tentu penampilan blog Pendidikan Kristen tidak kalah dengan penampilan situs berbayar. Saya sendiri senang menggunakan template ini, bahkan karena demikian senang maka saya memuji TUHAN Yesus, tindakan memuji TUHAN Yesus atas pemanfaatan sebuah template blogger dalam blog ini saya lakukan dalam halaman blog tentang Puji Tuhan Yesus. Silakan kunjungi laman berikut ini.

Praise The Lord Jesus


Tampilan blog ini sangat elegan karena menggunakan template blog pihak ketiga atau yang sering disebut "template blogger" dari template Bayna Fast, ada yang free dan Premium. Dengan menggunakan template blogger maka blog saya terlihat sangat baik dalam penampilan berikut ini.

Jika Anda hendak membuat tampilan blog anda lebih profesional dalam hal penampilannya maka anda dapat menggunakan template blogger. Ada yang fersi gratis dan ada pula yang berbayar. Tentu untuk langkah awal kita gunakan yang free dulu. Bila kita sudah mantap dalam menggunakan template maka kita dapat membeli kepada pemilik template. Template yang saya pakai ini adalah template dari "templatemark". Pembayaran dapat dilakukan melalui paypal. Namun saya belum melakukan itu karena saya masih menggunakan template fersi free download.

Ada juga sarana pembayaran melalui kartu kredit namun saya sangat hati hati menggunakan kartu kredit karena takut salah dipakai oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Pemilik template ini memang menyediakan pilihan pembayaran melalui kartu kredit dan paypal. Hanya saja saya belum berani menggunakan kartu kredit karena tidak ingin kartu kredit salah dimanfaatkan oleh orang-orang yang bukan pemilik templatemark.

Tujuan Pendidikan Agama Kristen Menurut John Calvin

Teori Pendidikan Umum sebagaimana yang kita kenal yaitu memulai pendidikan dengan menetukan tujuan. Tujuan itu menjadi arah prose belajar mengajar. Tanpa rumusan tujuan yang jelas dalam proses belajar dan mengajar maka kegiatan berlangsung tanpa arah. Itulah sebabnya perlu ada rumusan tujuan pengajaran. Namun mesti dikatakan bahwa sebelum pendidikan modern berusaha merumuskan betapa pentingnya tujuan pendidikan, para reformator gereja juga berusaha merumuskan tujuan pendidikan Kristen. Salah satunya John Calvin, seorang reformator gereja yang terkenal dalam teologi predestinasi yang tentunya mempengaruhi praktik PAK. Salah satu ciri khas Cavin yakni pendidikan Kristen yang bersumber dari Alkitab. Beriut rumusan tujuan oleh John Calvin.





Tujuan Pendidikan Agama Kristen Menurut John Calvin. Bagi mereka yang sedang menyusun skripsi, tesis dan disertasi di sekitar variabel Pendidikan AGama Kristen, pastilah sedang mencari informasi tentang variabel-variabel PAK yang lahir dari pemikiran teologi para reformator dan dipraktikan serta dikembangkan dalam dunia Pendidikan AGama Kristen sepanjang masa. Salah satu reformator yang menaruh perhatian pada Pendidikan AGama Kristen yaitu John Calvin.

Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Sumber Gambar: Pixabay


Dalam Robert R.Boehlke (1994:414), rumusan John Calvin tentang tujuan Pendidikan Agama Kristen didasarkan pada Efesus 4:11-16, dengan demikian:
tujuan Pendidikan Agama Kristen ialah mendidik semua putra-putri sang Ibu (gereja)agar mereka, - dilibatkan dalam penelaan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kudus, - diajar mengambil bagian dalam kebaktian serta mencari keesaan gereja, - diperlengkapi memilih cara-cara mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam gelanggang pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggungjawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.

Warga Pendidikan Agama Kristen dalam rumusan tujuan John Calvin sudah jelas bahwa mereka yang disebut "Putra dan Putri Gereja, dengan kata lain Calvin hendak menegaskan bahwa mereka yang patut ada dalam proses Pendidikan Agama Kristen yaitu semua orang percaya kepada Yesus Kristus yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari segala usia. Dikatakan demikian karena Calvin tidak menggolongan berdasarkan umur.
Dalam buku yang saya sebutkan di atas, warga Pendidikan AGama Kristen itu terdiri atas 4 golongan (Boehlke, 1994:415-416), yaitu:

1. Anak didik. Anak didik yang dimaksudkan Calvin pada kelompok pertama kita tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang usia. Artinya yang dimaksud dengan anak didik disini tidak didasarkan pada pengelompokkan usia. Apakah ada garis pemisah yang jelas antara anak-anak dengan kaum muda. Sampai disini, cukuplah dikatakan bahwa kelompok pertama dari para pelajar yang ikut dalam Pendidikan Agama Kristen yaitu "anak didik". Apakah anak didik merupakan sebuah istilah teknis teologis yang dipakai oleh Calvin untuk menunjukkkan siapakan orang percaya di hadapan Allah. Apakah Calvin hendak menyatakan bahwa dengan istilah "anak didik" adalah mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, yang oleh kepercayaan ini mereka mendapat status sebagai "anak" sehingga dalam hubungan dengan Pendidikan Kristen, mereka adalah "anak didik". Boleh jadi kaum muda juga masuk dalam kategori yang pertama. Dalam peraturan gereja seperti yang dikeluarkan Sinode dan kota praja Jenewa tahun 1547, bahwa setiap pendeta melayani jemaat anak-anak melalui katekisasi dan jemaat dewasa yang dilayani melalui kebaktian umum dengan Khotbah.

2. Peserta di sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi
3. Kaum Dewasa
4. Golongan pendeta dan pengajar
Keempat golongan di atas berdasarkan kesimpulan dan disistematisasi oleh penulis. Artinya informasi dalam buku Boehlke memang tidak mengurutkan putra putri gereja yang menjadi warga Pendidikan Agama Kristen dalam urutan 4 kelompok yang saya buat di atas. Walaupun begitu sebutan-sebutan tentang 4 kelompok itu ada dalam uraian Boehlke tentang Tujuan PAK kepada Putra-Putri Gereja.

Terlepas dari urutan-uratan mana yang paling benar dari 4 kategori pelajar yang dikemukakan oleh Cavin, yang olehnya ditujukan pendidikan Agama Kristen yang didasarkan pada tujuan sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, kita melihat terperinci elemen tujuan PAK Menurut John Calvin





Pertam, didikan yang bersumber pada Alkitab. Tujuan rumusan PAK ini tentu sangat jelas. Siapapun yang mengajar putra-putri gereja, maka pengajaran harus diarahkan pada tujuan yaitu mendidik putra dan putri agar melibatkan diri dalam penelaan Alkitab. Putra dan Putri Gereja ilibatkan dalam penelaan Alkitab secara cerdas sesuai bimbingan Roh Kudus. Jadi, tujuan yang pertama yaitu pelajar PAK menelaah Alkitab secara cerdas dalam bimbingan ROh Kudus. Mereka tidak boleh menjadi warga yang hanya mendengarkan tetapi ikut terlibat dalam penelaan Alkitab yang dilakukan secara benar sesuai dengan kaidah-kaidah rasioonal dalam bimbingan Roh Kudus. Istilahnya PA secara cerdas jangan PA asal-asalan.

Kedua, diajar mengambil bagian dalam kebaktian dan mencari keesaan gereja. Pengajar PAK harus berusaha untuk membimbing putra-putri gereja agar ikut dalam kebaktian, mereka yang tidak megikuti ibadah terkena disiplin. Putra Putri gereja harus ikut kebaktian pada hari Minggu dan hari-hari lainnya. Selain itu, putra dan putri gereja diajar untuk mempersatukan gereja (keesaan gereja) dan bukan meisahkan gereja, memecahkan gereja dan mendirikan gereja baru.
Ketiga, diajar untuk diperlengkapi memilih cara-cara atau metode-metode mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari. Tujuan PAK yang berikut yaitu mengajarkan peserta didik dalam PAK untuk menghidupi isi imannya dalam kehidupan sehari-hari (menguduskan diri setiap hari), melakukan perbuatan baik agar nama Bapa dipermuliakan.

Keempat, bagian terakhir dari rumusan tujuan PAK oleh Calvin yaitu, para pelajar hidup bertanggungjawab dibawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus. Bagian ini menunjukkan teologi John Calvin yang berporos pada kedaulatan Allah, teologi yang melatar belakangi rumusan ini yaitu teologi yang berporos kepada Allah, sementara Marthin Luther, teologinya berporos pada Kristus. Dalam rumusan tujuan ini, Calvin menekankan tentang kedaulatan Allah atas kepercayaan akan keselamatan yang dijalani dalam kehidupan sehri-hari, Allah dalam kedaulatan-Nya telah memilih sebagian orang untuk menjadi pelajar Pendidikan Agama Kristen. kehodupan yang dijalani sebagai orang yang diselamatkan adalah kehidupan karena predestinasi yang didasarkan pada kedaulatan Allah. Perhatikan ungkapan "mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus (Predestinasi). Kita tidak tahu siapa yang dipredestinasikan dalam konteks pelajar Pendidikan Agama Kristen. Mereka yang mengikuti PAK adalah mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus, saya menyebutnya dengan ungkapan: "Predestinasi dalam warga Pendidikan Kristen".
Bila ada yang hendak meneliti maka silakan saja dengan rumusan variabel: "Predestinasi dalam Para Pelajar Pendidikan Agama Kristen" dan variabel lainnya.

John Calvin mempunyai katekismus Jenewa, katekismus ini disusun oleh Calvin, didalam katekismus ini salah satunya mengisahkan tentang perlunya anak-anak dididik secara benar dalam ajaran Kristen. Di buka sekolah-sekolah seperti di Jenewa mulai dari taraf sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi. Misalnya tahun 1559 dibuka akademi yang mempersiapkan pemimpin-pemimpin masyarakat, khususnya pelayanan gereja. Ada sekolah yang disebut schola privata atau sekolah persiapan dan Schola publica yang merupakan kombinasi SMA kelas III dan perguruan tinggi (Ibid,416)
Untuk mencapai tujuan pendidikan seperti yang dirumuskan John Calvin, ada pengajar Pendidikan Agama Kristen yang berusaha bersama para pelajar dalam mencapai tujuan PAK.

Para Pengajar Pendidikan Agama Kristen terdiri dari:

1. Pengajar paling utama yaitu Allah. Allah adalah pengaar utama dan pertama. Penekanan ini dipengaruhi oleh pemahaman teologi Cavin tentang kedaulatan Allah. Dengan begitu, tidak heran bila Cavin menempatkan bagian utama dan pertama dalam hal pengajar yaitu TUHAN Allah. Berdasarkan penekanan ini, Calvin menyatakan bahwa para pengajar ditugaskan melayani firman Allah, bahkan Calvin dikenal sebagai "Pelayan Firman Allah" (Ibid, 417). Di daerah saya, ada yang mendapat pelatihan khusus selama 1 tahun dalam bentuk sekolah dan mereka kemudian ditabiskan menjadi pelayan firman Tuhan dengan gelar PFA dibelakang nama mereka, misalnya John Muanley, PFA.

Kita mengenal Tuhan melalui firman TUHAN maka sebenarnya kita adalah pelayan firman Allah. Oleh karena kita adalah pelayan firman Allah maka perlu mengajarkan isi Alkitab secara benar kepada peserta didik dalam Pendidikan Agama Kristen. Allah mengajar melalui firman-Nya (Alkitab sebagai firman tertulis).

2. Pendeta sebagai guru. Ketika pendeta memberitakan Firman Allah maka ia bertindak sebagai seorang guru. Jabatan ini adalah mereka yang melakukan pemberitaan firman Allah di gereja melalui khotbah. Dalam hal ini seseorang bertindak sebagai guru. Maksudnya seorang pelayan yang melayani Jemaat Melalui Pemberitaan Firman maka ia bertindak sebagai guru.
3. Mereka yang dipersiapkan di akademi atau perguruan tinggi untuk menjabat sebagai guru
4. Gereja. Gereja adalah pengajar bagi warganya.(Ibid, 419)

Semoga bermanfaat

Salam
Pendidikan Kristen yang belajar dari Yusuf dan Maria

Pendidikan Kristen yang belajar dari Yusuf dan Maria

Artikel Ilmiah Ulsan Teologis Matius 1:18 Model APA: Oleh Yonas Muanley.
Telah diterbitkan di: https://metodepenulisankaryailmiah.blogspot.com/2020/01/artikel-ilmiah-ulasan-teologis-matius.html
Teks uraian Matius, 1:18.

Mat. 1:18. Bertunangan. Menurut Kebiasaan Yahudi zaman itu, seorang gadis dipertunangkan dengan seorang pria oleh orangtua ataupun walinya. Pria itu wajib membayar mas kawin kepada ayah/wali gadis itu sebagai kompensasi. Sejak saat itu gadis tersebut berada dalam kuasa tunangannya yang dipandang sebagai baal, artinya tuan/suami (bdn. Hos. 2:18-19). Bila gadis yang sudah bertunangan itu bersetubuh dengan pria lain, ia dipandang sebagai pezina, sehingga harus dihukum sesuai dengan Ul. 22:23-27 ataupun diceraikan dan diberi surat cerai. Sejak saat itu pula ia berstatus janda (Stefan Leks, 2002:22-23).
“Menurut Mat. 1:18-25, Yusuf atau Yosef dan Maria sudah bertunangan, sehingga tinggal diadakan upacara pernikahan saja. Maria tinggal di rumah orangtuanya, sedangkan Yusuf atau Yosef mengunjunginya sewaktu-waktu saja. Yusuf 1:18 Dalam bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin, nama ini berbunyi Yosef. (Stefan Leks, 2002:23).





“Sebelum mereka hidup sebagai suami istri Mat. 1:18- Maria mengandung sebelum secara resmi ia dibawa oleh Yosef ke rumahnya (ay. 24). Dalam teks asli tidak tertulis sebelum mereka hidup sebagai suami istri, tetapi sebelum mereka kumpul/tinggal bersama. Ungkapan ini searti dengan “nikah secara resmi”. (Stefan Leks, 2002:24).
Mengandung dari Roh Kudus Mat. 1:18. Roh Kudus menghidupkan, bahkan member kehidupan baru. (Stefan Leks, 2002:24). Allah adalah penyebab kehidupan putra-Nya sebagai manusia. Dengan cara ini terungkaplah ikatan mendalam antara yang ialhi dengan yang manusiawi. Keterlibatan Allah dalam peristiwa terkandungnya Yesus ini tidak dapat dan juga tidak mau dijelaskan ataupun dianalisis lebih lanjut oleh Matius. Maria mengandung karena Allah sendiri melalui Roh Kudus-Nya. Roh Kudus menyebabkan Maria mengandung. Roh Kuduslah prinsip vitalitas, kuasa yang menghidupkan dalam diri insane yang hidup. (Stefan Leks, 2002:24).
Yusuf, suaminya 1:19- Sebelum hidup bersama, para tunangan secara resmi dipandang oleh masyarakat Yahudi zaman itu sebagai suami dan istri. Ikatan mereka hanya dapat disudahi lewat keputusan hokum (Stefan Leks, 2002:25).
Tulus hati Mat. 1:19 – Ungkapan tulus hati mengalihbahasakan kata Yunani dikaios yang searti dengan “benar”. Kata “tulus hati” mengandung beberapa pengertian:

a) Yusuf amat setia kepada Hukum yang mengizinkannya menceraikan Maria dalam kasus zina;
b) Yusuf begitu baik, sehingga tampaknya tidak samapai hati menceraikan Maria;
c) Yusuf yakin bahwa Maria tidak bersalah, sehingga ia rela meninggalkannya tanpa proses hukum;
d) Yusuf tidak berani menjadi ayah bagi Putra Allah
Perlu diketahui bahwa kata Yunani “dikaios” yang dipakai Matius di sini, pada umumnya dikaitkan dengan pelaksanaan Hukum (Mat. 9:13; 13:17; 23:29), bukan dengan kelakuan moral manusia. Dilihat dari sudut ini, Yusuf tidak tulus hati, seandainya ia menceraikan Maria, apalagi secara diam-diam. Maka, diduga bahwa Yusuf disebut “tulus hati” , karena ia tahu bahwa Maria tidak bersalah, namun ia tetap merasa tidak pantas menjadi ayah bagi anak Maria, sebagaimana dapat disimpulkan dari ayat-ayat selanjutnya. (Stefan Leks, 2002:25).

Tidak mau mencemarkan nama. Mat. 1:19 – Seandainya Yusuf mendakwa Maria sebagai pezina, maka Yusuf pasti akan mencemarkan nama Maria. (Stefan Leks, 2002:25).
Bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Mat. 1:19. Perceraian diam-diam tidak dibenarkan oleh satu nas PL pun. Justru supaya sah, perceraian harus dikukuhkan dengan surat resmi (Ul. 24:1). Menurut sejumlah ahli, ungkapan diam-diam tidak searti dengan “tanpa saksi-saksi” tetapi “tidak memperkarakan di muka pengadilan, atau “tanpa membuat pernyataan macam-macam tentang perkara itu. Yusuf tidak mau menuduh Maria sebagai pezinah dan penyebab dibatalkannya pernikahan dengannya. (Stefan Leks, 2002:25-26).
Malaikat Tuhan. Mat. 1:20. Dalam PL, ungkapan malaikat Tuhan diterapkan pada Allah sendiri (Kej. 16:7,13; Kel. 3:2) yang bertindak dalam hidup dan sejarah manusia. Malaikat Tuhan datang kepada manusia pada saat-saat yang sangat menentukan dalam rencana Allah. Malaikat Tuhan jangan disamakan dengan para malaikat yang sering disebut dalam KPR. (Stefan Leks, 2002:27).

Dalam mimpi 1:20- Orang-orang zaman kuno berpendapat bahwa mimpi adalah salah satu cara manusia dapat berkomunikasi dengan dunia yang tidak kelihatan. Manusia modern suka menyibukkan diri dengan mimpi juga, tetapi mementingkannya sebagai gambaran ttg masa lampau atau masa sekarang. Bangsa Yahudi biasa memandang mimpi sebagai tanda mengenai masa yang akan datang. (Stefan Leks, 2002:22-27).

Mimpi dalam arti penerangan ilahi/wahyu, mimpi penglihatan ataupun mimpi nubuat, disebut dalam Injil Matius. Mimpi ini hanya disinggung dalam Injil Matius 1:20; 2:12-13, 19-22. Mimpi istri Pilatus, 27:19. Injil Matius paling dipengaruhi oleh mentalitas Yahudi. Dalam tulisan-tulisan para rabi Yahudi, mimpi berperanan cukup penting. (Stefan Leks, 2002:27).
Anak Daud 1:20 – Yusuf disapa oleh Malaikat Tuhan sebagai anak Daud. Sapaan ini langsung menunjukkan bahwa tujuan kedatangan Malaikat itu satu saja, yaitu meyakinkan Yusuf bahwa ia seharusnya mengadopsi Yesus dan dengan demikian menjamin statusnya sebagai putra Daud. (Stefan Leks, 2002:27).
Jangan engkau takut. 1:20 – Seandainya Yusuf yakin bahwa Maria bersalah (karena berzinah), maka teguran malaikat ini sungguh tidak bermakna. Tetapi seandainya Yusuf yakin bahwa Maria sama sekali tidak bersalah, maka teguran ini memang pada tempatnya. Yusuf segan, takut memperistri Maria, sebab ia tahu bahwa buah rahimnya berasal dari Allah. Yosuf tidak mau terlibat dalam perkara yang melampaui pengertiannya dan merupakan baginya sebuah teka teki yang tidak terpecahkan. (Stefan Leks, 2002:27).
Mengambil Maria sebagai istrimu 1:21. Malaikat Tuhan memikirkan tahap terakhir pertunangan, yaitu saat sang suami menjemput istrinya ke dalam rumahnya (Stefan Leks, 2002:28).
Menamakan dia Yesus. 1:21. Yusuf diminta oleh Malaikat memberi nama (= mengakui secara resmi) kepada anak itu. Dan memasukan dalam garis keturunan Daud dengan memberi nama kepadanya. (Stefan Leks, 2002:28). Dalam 1:21 pemberian nama kepada anak adalah hak utama ayah. Dengan cara itu, Yusuf mengakuinya sebagai anaknya sendiri (bnd. Kej. 17:19; I Taw. 22:9; Yes. 8:3). Dengan member nama kepada Yesus, Yusuf dengan sendirinya mengadopsi-Nya pula. Nama yang sebelumnya sudah ditentukan oleh Allah mengacu kepada misi yang akan diemban oleh anak yang diberi nama tertentu. (Stefan Leks, 2002:28)
Yesus 1:21- Dalam bahasa Ibrani, nama Yesus berbunyi Yesyua (bentuk singkat dari Yehosyua); artinya: Tuhan menyelamatkan kita. (Stefan Leks, 2002:29)

Akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (1:21). Menurut PL, Allah yang menyelamtkan umat-Nya (Hosea, 1:7). Mazmur 130:8 penyelamatan adalah pembebasan dari dosa-dosa, penghapusan dosa dan sekaligus peniadaan segala rintangan yang mengganggu relasi Allah dengan manusia. Misi Yesus sebagai Juru Selamat diperkenalkan dalam Matius 9:2-6, tetapi khusus lewat darah yang ditumpahkan-Nya demi pengampunan dosa (26:28)

Mereka akan menamakan Dia Imanuel 1:24. Hampir ayat 23 merupakan kutipan dari Yesaya 7:14. Matius mengutipnya menurut terjemahan Yunaninya. Mereka akan menamakan dia imanuel
Menamakan dia imanuel menegaskan bahwa yang memberi nama Imanuel bukan oleh Yusuf tetapi oleh mereka. (Stefan Leks, 2002:31)
Kata Ibrani Immanu El searti dengan “Allah menyertai kita.” (Stefan Leks, 2002:31)
Sesudah bangun 1:24. Maksudnya kiranya keesokan harinya.
Mengambil Maria sebagai istri 1:24 – Kata yang sama muncul dalam 1:20 di atas. Yusuf mengambil, artinya menerima “Maria” (dalam rumahnya) sebagai istri. (Stefan Leks, 2002:32)

Salam

Mobile Learning PAK Dalam Perjanjian Baru

Mobile learning PAK (Pendidikan AGama Kristen) dalam Perjanjian Baru atau Pembelajaran PAK Dalam PB dengan metode M-Learning berbasis Handphone merupakan sebuah praktik dari pengajaran yang dilakukan Yonas Muanley dalam proses belajar-mengajar di salah satu STT yaitu di STT Hagioasmos Mission. Mata Kuliah yang diberikan adalah Mata Kuliah Pendidikan Agama Kristen Dalam Perjanjian Baru.





Untuk mengajar mata kuliah ini, saya harus menempuh perjalanan dari Cililiitan (PGC) ke Rawa Buaya dan dengan ojek online menuju kampus dengan ongkos Rp 10.000,00. Saya mengalami ketenangan dan kenyamanan, tanpa beban yang biasanya membebani saya bila diundang mengajar ke tempat lain. Beban yang saya maksudkan yaitu bawa laptop di tas, bila dengan kenderaan oikumene (kenderaan umum) seperti bus way, saya harus memikul laptop sambil berdiri, syukur kalau duduk. Namun biasanya di bus way harus bersedia memberi tempat bila ada yang lebih tua atau ibu-ibu. Bila demikian maka sudah dapat dipastikan berdiri sambil memikul tas yang berisi laptop.

Memasuki tahun 2019, tahun ajaran 2019/2020 saya mengubah cara mengajar yaitu menggunakan metode pembelajaran yang disebut "Mobile Learning" "Berbasis Handphone". Dengan begitu, saya hanya membawa handphone ke ruang kuliah. Sebelumnya saya sudah merancang mata kuliah yang dapat diakses secara online dengan memanfaatkan google drive dan shortener di bit.ly






Beberapa kali ke STT Hagiasmos Mission untuk mengajar dengan perasaan senang karena pergi dan pulang tanpa beban membawa laptop, laptop tidak dapat diisi di kantong celana dan baju, hanya handphone yang bisa, mungkin iPad dalam ukuran yang disesuaikan dengan kantong celana dapat dimasukan dan dibawa ke ruang kuliah.
Saya merasa demikian entengnya saya memanfaatkan pembelajaran dengan model "M-Learning dengan menggunakan handphone". Siapa saja dapat menggunakan metode ini. Bila kita menggunakan metode ini maka setiap siswa dianjurkan membawa handphone dan punya koneksi internet atau dapat menggunakan wifi sekolah.

Pada kesempatan melalui blog ini, saya ucapkan selamat merayakan perayaan Imlek bagi mereka yang merayakannya pada tanggal 25 Januari 2020



Saya sudah menggunakan handphone denganmetode M-Learning di STT Hami dalam 2 kali pertemuan dan pertemuan selanjutnya tetap menggunakan handphone sebagai media pembelajaran secara tatap muka di ruang kuliah dan secara online. Pembelajaran seperti ini masuk kategori "Metode Pembelajaran yang disebut "Blended Learning". Model pembelajaran m-learning yang berbasis handphone tidak perlu menggunakan LCD sebagaimana yang terjadi pada pembelajaran yang menggunakan laptop sebagai media pembelajaran.

Mengajar menggunakan handphone seperti kita sedang mengadakan perjalanan biasa, tidak bawa laptopmaupun bawa LCD. Cukup bawa handphone yang memiliki paket data atau menggunakan wifi kampus. Dengan begitu kita sudah dapat melaksanakan perkuliahan secara baik.

Semoga menginspirasi

Salam
Yonas Muanley

Pendidikan Kristen dalam Masyarakat Multikulturalisme

Pendidikan Kristen dalam Masyarakat Multikulturalisme

Pendidikan Kristen dalam Multikulturalisme dalampostingan ini diambil dari berbagai sumber. Bila ada yang merasa ada artikel yang merupakan bagian pemikirannya silakan hubungi saya dan saya akan menghapusnya dari laman ini.
Peserta didik memiliki kebutuhan-kebutuhan rohani sesuai dengan konteksnya. Oleh karena itu, ciri Pendidikan Agama Kristen haruslah memiliki ciri-ciri berikut ini.






PAK Dalam Masyarakatt Majemuk Bersifat Partisipasif

Keberhasilan Pendidikan Agama Kristen adalah tergantung dari keterlibatan bersama antara pendidik dan peserta didik. Pendidikan Agama Kristen bukanlah sebuah indoktrinasi tetapi partisipasi. Oleh karena itu semua komponen harus memberi dukungan yang sungguh-sungguh untuk keberhasilan pengajaran itu sendiri.
Pendidikan Agama Kristen memiliki sifat terbuka kepada perubahan dan kebutuhan, sehingga bekal pendidikan itu peserta didik mampu memahami dan menempatkan diri secara realistis, kritis dan kreatif dalam setiap situasi yang dihadapi.
Pendidikan agama Kristen tidak boleh membawa peserta didik menjadi introvert melainkan harus ekstrovert, artinya mampu menempatkan dirinya sebagai orang percaya ditengah-tengah lingkungannya.

PAK Dalam Masyarakat Majemuk dirancang Berdasarkan Strategi PAK Yang Berkelanjutan

Ciri khas Pendidikan Agama Kristen adalah berkesinabungan. Pendidikan Agama Kristen tidak pernah selesai dalam arti yang sesungguhnya hingga mencapai kedewasaan iman. Pendidikan Agama Kristen harus terus dikaji ulang agar selalu konteks dengan kebutuhan dan perubahan-perubahan yang terjadi.

PAK Dalam Masyarakat Multikultural/Majemuk dirancang dalam Strategi PAK Yang Terarah dan terencana

Arah dan tujuan Pendidikan Agama Kristen harus jelas dan terarah dan tidak boleh menyimpang dari tujuan tujuan dasarnya. Tujuan utama adalah agar peserta didik bertumbuh dalam iman, ketaatan akan firman Allah dan mampu mengaplikasikan imannya dalam hidupnya pribadi maupun bersama dengan orang lain.






PAK Dalam Masyarakat Multikultural dirancang dalam Strategi "PAK Manusia Orientet"

Pendidikan Agama Kristen berorientasi kepada manusia yaitu menyangkut pembaharuannya, penghayatannya, pembentukan sikap dan perilakunya serta pembentukan jati dirinya.

Tujuan Pendidikan Agama Kristen

Kedewasaan rohani tidaklah terjadi secara tiba-tiba, tetapi terjadi lewat pengajaran, beribadah, berdoa, bersekutu dan mempelajari firman Allah. Peserta didik dalam mendapatkan PAK di sekolah bukanlah semata-mata untuk memenuhi tuntutan kurikulum yang telah ditetapkan, tetapi lebih jauh dari pada itu.
Lewat Pendidikan Agama Kristen peserta didik diharapkan dapat berkembang terus dalam pemahaman tentang Allah dan menolong mereka supaya dapat hidup sebagai murid-murid Kristus. Beberapa tujuan penting dari Pendidikan Agama Kristen diuraikan di bawah ini:

1.Perubahan Hidup dari Dosa (Pertobatan)

Pertobatan demikian penting dalam iman Kristen. PAK disekolah mengalami kegagalan karena tidak mementingkan nilai-nilai pertobatan. Pertobatanlah yang memungkinkan tiap-tiap orang dapat melihat Kerajaan Allah dan mengalami kelahiran baru dalam Kristus.

Firman Allah yang diajarkan akan menghasilkan perubahan bagi setiap orang, yaitu perubahan yang dikerjakan oleh kuasa firman Allah. Pertobatan menyangkut penyesalan dan kesedihan atas perilaku yang lama (2 Kor 7 : 9); berpaling dari perilaku dosa ( Kis 8 : 22) kepada hidup yang baru di dalam Yesus Kristus (Mrk 1 : 15).

2.Kualitas Rohani yaitu Pertumbuhan rohani

Pertumbuhan rohani terlihat dari dua aspek yaitu aspek “vertical dan horizontal”. Aspek vertical ialah diperbaharuinya hubungan seseorang dengan Allah yang dikokohkan melalui firman Allah dan doa. Sedangkan hubungan horizontal ditandai dengan praktek iman dalam hubungannya dengan sesama.
Pertumbuhan itu terjadi terus menerus (proses) dalam pengenalan akan Allah (Kol 1 : 10) dalam kasih karunia (2 Petr 3 : 8) hidup dalam pimpinan Roh Allah dan segala jalan hidupnya dilandasi oleh kasih Allah (Mat 22 : 37 – 40; 1 Kor 13 : 4 – 7), tanda-tanda ini akan terus semakin terlihat dalam hidupnya sehari-hari. Pertumbuhan rohani

3.Menjadi Pengikut Yesus (Pemuridan)

Semua orang percaya adalah murid Kristus dan mempunyai hak untuk memperoleh pemeliharaan dan pertumbuhan untuk menjadikannya menjadi murid-murid Kristus.
Pengertian murid dapat dibagi ke dalam dua pengertian yaitu, bahwa semua orang percaya adalah murid-murid Kristus, mereka dipanggil untuk mengikut Tuhan dengan setia dan dapat mewujudnyatakan imannya sebagai pengikut Kristus. Kemudian orang-orang percaya yang dengan rela hati melayani Tuhan secara khusus dan menjadi pelayan-pelayan Kristus.
Sebagai murid-murid Kristus, peserta didik haruslah dibawa kepada kesetiaan menjadi murid Kristus. Beberapa ciri dari murid Kristus ialah, “memisahkan diri dari dosa” (Luk 9 : 23), setia dan tekun menyelidiki firman Allah dan mempraktekkannya (Oh 8 : 31; Yak 1 : 22 – 25; Maz 119 : 59) dan mereka menjadi pelaksana-pelaksana perintah Kristus.






4.Pembentukan Spiritual

Pendidikan Agama Kristen haruslah bertujuan untuk pembentukan spiritual peserta didik. Melalui PAK yang diperolehnya peserta didik mengalami pembentukan rohani yang sungguh-sungguh.
Kata spiritual berkaitan erat dengan “spirit” atau “roh” yaitu kekuatan yang menghidupkan atau menggerakkan. “Spiritualitas” diartikan sebagai kekuatan atau roh yang memberi daya tahan kepada seseorang atau sekelompok orang untuk mempertahankan, memperkembangkan dan mewujudkan kehidupannya. Iman tidak akan tahan uji jika tidak disertai spiritualitas.
Tanpa spiritualitas iman orang percaya tidak akan bersinar, lemah tanpa kekuatan dan tidak menjadi ciptaan baru. Spritualitas memungkinkan orang orang percaya memiliki kekuatan, katabahan, kesabaran, kebaikan, kesucian, ketaatan dan kepekaan di dalam Yesus Kristus. PAK disekolah haruslah bertujuan untuk membentuk spiritualitas dari peserta didik.

Arah PAK Dalam Masyarakat Multikultural

Berkaitan dengan konteks masyarakat Indonesia yang memiliki heterogenitas, baik agama, suku dan golongan, maka perlu dikaji ulang arah PAK dalam masyarakat majemuk. Diharapkan dengan pengajaran PAK dalam konteks masyarakat majemuk, peserta didik mampu hadir dan mempraktekkan imannya ditengah-tengah lingkungannya tanpa mengkompromikan dogma iman yang dimilikinya.

PAK disekolah haruslah bermuara kepada transformasi baik dalam pengetahuan maupun dalam transformasi iman.
Sebab salah satu tujuan pembelajaran agama di sekolah adalah untuk memampukan peserta didik hidup bersama dengan orang- orang lain disekitarnya yang memiliki keaneka ragaman agama, suku dan etnis.

1. Belajar hidup dalam perbedaan.

Pengembangan sikap toleran, empati dan simpati haruslah terus dibangun sebagai prasyarat eksistensi keragaman agama yang ada.
Selama ini pola pendidikan di Indonesia bersandar pada tiga pilar utama yaitu, learning to know, learning to do dan learning to be. Dalam kaitan dengan heterogenitas agama-agama di Indonesia maka sangat penting dibangun pilar ke empat yaitu, learning ti life together. Dengan demikian peserta didik lewat proses belajarnya dimampukan hidup bersama dengan orang lain yang memiliki latar belakang hidup yang berbeda.
Toleransi adalah kesiapan dan kemampuan batin untuk kerasan bersama dengan orang lain yang berbeda secara hakiki, meskipun dalam cara hidup dan keyakinan terdapat konflik dalam hidup tentang apa yang baik dan buruk. Toleransi memerlukan dialog untuk mengkomunikasikan dan menjelaskan perbedaan, menuntut keterbukaan dan menerima perbedaan itu sebagai realitas hidup. Perbedaan itu tidaklah diciptakan sendiri, melainkan telah terbentuk dalam diri seseorang sejak ia lahir.
Menerima realitas keaneka ragaman adalah untuk menanamkan sikap toleran sejak dini dari perbedaan yang kecil hingga perbedaan yang besar tanpa mengkompromikan apa yang tidak bisa dikompromikan. Dalam konteks Indonesia sekarang ini, menerima perbedaan harus ditanamkan lewat berbagai jalur kehidupan seperti, jalur pendidikan formal dan non formal. Pemerintah haruslah memasyarakatkannya dengan sungguh-sungguh kepada semua lapisan masayarakat.
Agama-agama haruslah dapat duduk bersama untuk berdialog tentang apa yang dapat dilakukan bersama. Haruslah dihindari perdebatan-perdebatan yang bersikap dogmatis yang cenderung menimbulkan konflik dan memperluas jarak. Nilai-nilai sosial yang sifatnya diperlukan dan diterima oleh semua agama-agama perlu dibangun secara bersama-sama.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, tokoh dan para pemimpin agama haruslah memberi contoh dan teladan bagi masyarakatnya tentang pentingnya saling menerima perbedaan. Perlu dibangun tingkat kedewasaan emosional bagi setiap golongan, karena membangun kebersaman dalam perbedaan bukanlah hal yang mudah.

2. Membangun saling percaya.

Membangun saling percaya adalah modal penting dalam membangun suatu masyarakat yang heterogenitas. Jika tidak maka akan terjadi berbagai konflik dalam masyarakat.
Pembangunan hidup masyarakat suatu bangsa yang heterogenitas seperti Indonesia tidak akan terjadi tanpa ada saling percaya diantara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda dalam agama maupun suku. Perbedaan tidak dapat dijadikan menjadi potensi atau kekuatan bangsa, melainkan dapat menjadi malapetaka yang mengakibatkan kehancuran suatu bangsa.
Modal utama sosial adalah memberikan sumbangan sosial dari masing-masing kelompok untuk kebaikan bersama, menyampaikan kebaikan-kebaikan dan kebenaran, mempertemukan apa yang menjadi kewajiban dan beban sosial bersama. Bahwa pergumulan yang terdapat dilingkungan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab bersama, mengatasi bersama-sama tanpa membicarakan apa latar belakang kita masing-masing.

Dalam masyarakat kita selama ini, khususnya dalam bidang keagamaan, perbedaanlah yang paling sering dimunculkan, baik itu perbedaan dogmatis maupun perbedaan realitas. Akibatnya golongan-golongan keagamaan yang ada pada masyarakat tidak dapat membangun saling percaya, melainkan saling mencurigai, kemudian membangun tembok yang tinggi untuk tidak saling bersentuhan dalam hal apapun.

Modal sosial ini merupakan fondasi bagi terbangunnya sikap rasional, tidak mudah curiga, bebas dari prasangka buruk. Agama haruslah menjadi pondasi utama untuk membanun saling percaya terus menerus bagi masyarakat.
Mengapa jalur agama menjadi pondasi yang amat penting ? Hampir seluruh proses kehidupan baik bathin maupun perbuatan selalu diwarnai oleh keyakinan agama. Peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan agama-agama yang dikeluarkan oleh pemerintah, haruslah mengarah untuk membangun saling percaya dan bukan untuk membangun saling curiga.

3. Memelihara saling pengertian.

Saling pengertian bukan berarti menyetujui perbedaan. Banyak orang tidak mau memahami atau mengerti penganut keyakinan lain, sebab ia dapat dituduh sebagai orang yang menyetujui keyakinan lain tersebut atau bersifat kompromi terhadap perbedaan yang ada. Saling pengertian adalah kesadaran bahwa nilai-nilai yang dianut oleh orang lain memmang berbeda, tetapi mungkin dapat saling melengkapi dengan nilai-nilai yang kita anut serta memberi kontribusi terhadap hubungan yang harmonis. Saling pengertian dapat saling melengkapi dan memungkinkan dibangunya kerja sama yang baik.
Kawan sejati adalah lawan dialog yang senantiasa setia untuk menerima perbedaan dan siap pada segala kemungkinan untuk menjumpai titik temu di dalamnya, serta memahami bahwa dalam perbedaan dan persamaan dan dibangun hubungan yang harmonis.

Membangun saling pengertian memerlukan kedewasaan berpikir dan kedewasaan emosional. Saling pengertian adalah rasa percaya bahwa penganut agama lain tidak akan melakukan usaha-usaha yang tidak baik, untuk mempengaruhi, mengajak atau memberi dorongan agar ia berpindah pada apa yang kita yakini. Pendidikan agama mempunyai tanggung jawab membangun landasan etis kepedulian terhadap sesama dan menghindari kesalah pahaman.

4. Sikap saling menghargai.

Sikap saling menghargai adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat kesetaraan. Menghargai sesama manusia adalah sifat dasar yang diajarkan oleh semua agama. Menjaga kehormatan diri bukan berarti harus mengorbankan atau mengalahkan harga diri orang lain. Saling menghargai adalah juga sifat dasariah dari manusia. Setiap manusia haruslah dihargai sebagaimana ia ada. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai orang lain.

Yesus memberikan teladan bagi kita bagaimana Ia sebagai Tuhan dan Juruselamat memberi penghargaan yang tulus kepada kita. Ia menerima kita sebagaimana kita ada. Yesus tidak pernah mempersoalkan latar belakang golongan kita, atau warna kulit kita. Ia mengasihi semua orang dan mengorbankan diriNya untuk semua orang. Yesus menghargai Zakheus pemungut cukai dan menghargai wanita pelacur yang dianggap hina oleh masyarakat. Yesus menghargai orang lumpuh di kolam Bethesda dan menghargai perempuan Samaria yang bertemu denganNya di sumur Yakub. Ia juga menghargai aak-anak kecil dan menghargai orang-orang tua yang sudah tidak berdaya.

Sikap saling menghargai antar penganut agama-agama, dan memungkinkan kita dapat dan siap mendengarkan suara agama lain iang berbeda, menghargai martabat setiap individu dan kelompok keagamaan yang beragam. Saling menghargai akan membawa pada sikap saling berbagi diantara semua individu.

5. Perjumpaan lintas agama

Perjumpaan lintas agama di Indonesia bukanlah masalah baru. Sebelum Indonesia merdeka, agama-agama sudah mengalami perjumpaan diseantero negeri ini. Jika kita melihat kebelakang, berbagai nuansa perjumpaan agama-agama sudah mengalami perjalanan yang panjang, dan hingga kini terus menjadi masalah yang tetap aktual untuk dibicarakan. Perjumpaan agama-agama terus mengalami dilemma bahkan menimbulkan berbagai komplik yang berkepanjangan. Dari perjalanan yang panjang tersebut, perjumpaan agama-agama dan persoalannya dapat kita bagi ke dalam tiga golongan, yaitu :

a. Perjumpaan awal. Perjumpaan periode ini tergolong relative stabil, karena karena kemajemukan suku maupun agama pada umumnya masih berada dalam taraf statis. Mereka hidup dalam taraf masyarakat yang terisolasi dalam batas-batas wilayah yang tetap, dan belum memiliki mobilitas yang tinggi karena teknologi komunikasi, transportasi dan urbanisasi penduduk masih sangat terbatas. Heterogenitas agama-agama belum saling bergantung antara agama satu dengan agama lainnya. Agama-agama hadir dalam lintas suku dan daerah dan diklaim sebagai milik sendiri, gangguan dari penganut agama lain masih amat jarang terjadi, bahkan tidak pernah berhubungan sama sekali. Pada periode ini, agama-agama tidak muncul sebagai sumber konflik pada masyarakat.

b. Perjumpaan kompetitif. Periode kedua ini dimulai kira-kira abad ke 13, ketika agama Islam mulai berkembang di Indonesia, dan kemudian disusul dengan kedatangan agama Barat atau agama Kristen. Perjumpaan antar sesama agama yang datang dari luar nusantara, diwarnai oleh dominasi kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lebih lemah. Trauma konflik ini tersimpan dalam memori kolektif yang sering diteguhkan menjadi semacam keyakinan teologis bagi penganut agama masing-masing.

Perjumpaan modern.

Sejak masa ini muncul apa yang disebut dengan masyarakat SARA, dimana umat beragama di Indonesia memasuki babak baru. Guru PAK dalam peserta didik harus mampu berkarya dalam masyarakat Indonesia dalam kehidupan bersama yang pluralistic, demokratis, terbuka dan toleran serta membangun hubungan yang dialogis diantara pemeluk pemeluk agama yang ada.

Masyarakat Indonesia berpindah dari konflik yang satu kepada konflik yang lain. Konflik agamalah yang paling sering terjadi di Indonesia hingga masa kini. Konflik itu oleh pertolongan TUHAN, diselesaikan oleh pemerintah dan pemuka agama. Bisa saja konflik SARA menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia hingga sekarang ini.

Ditinjau dari sudut iman Kristen, sudah saatnya gereja dan umat tidak hanya mengutamakan kuatitas sebagai keberhasilan, melainkan menekankan kepada pembentukan kualitas umat tanpa melupakan misi utama.

Orientasi PAK Dalam Masyarakat Majemuk

1. Menghadapi pergumulan –pergumulan bersama

Saat ini agama-agama di Indonesia sudah waktunya keluar dari perdebatan perdebatan dogmatis dan usaha-usaha persaingan misi memenangkan agama lain. Agama-agama di Indonesia sudah saatnya memikirkan usaha-usaha bersama untuk dapat mengatasi krisis-krisis sosial yang terjadi.
Munculnya krisis-krisis sosial akud haruslah juga di lihat sebagai kegagalan agama-agama di Indonesia yang tidak mampu membentengi masyarakatnya dari dekadensi moral lewat ajaran dan pembinaan agama masing-masing. Krisis nilai-nilai sosial harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama dan ditasi bersama-sama. Beberapa diantara krisis sosial tersebut adalah;

a.Hak Azasi Manusia

Hak azasi mausia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan merupakan anugerahnya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hukum pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan, harkat dan martabat manusia. Hak-hak tersebut melekat pada diri manusia sebagai pemberian Tuhan dan bukan pemberian manusia.

Prinsip Ham adalah bahwa setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan hukum. Setiap orang berhak atas perlindungan hakl azasi manusia tanpa diskriminasi.
Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat Negara baik sengaja maupun tidak sengaja atau karena kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak azasi manusia, seseorang atau kelompok yang dijamin oleh undang-undang.

b. Demokratisasi

Demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang segenap rakyat turut serta memerintah (pemerintahan ditangan rakyat) dengan memilih wakil-wakilnya di parlemen. Ciri demokrasi adalah system pemerintahan yang menegakkan hak-hak sipil, persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.

Perkembangan demokrasi di Indonesia adalah; Orde Lama mengembangkan sistem demokrasi terpimpin. Orde Baru mengembangkan sistem demokrasi Pancasila, sedang Reformasi sekarang ini mengembangkan demokrasi dengan penegakan hak- hak sipil.
Namun jika kita melakukan evaluasi kritis terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia saat ini, masih terjadi tarik menarik kepentingan dari berbagai komponen bangsa, baik pada tingkat politik maupun masyarakat, sehingga rakyat sering menjadi korban kepentingan politik.

Guru PAK dalam memenuhi panggilannya haruslah terus memperlengkapi diri agar menjadi alat yang berguna ditangan Tuhan. Guru bertanggung jawab kepada Tuhan, kepada sekolah, kepada gereja dan kepada masyarakat. Pendidikan Agama haruslah dapat membawa peserta didik menjadi pribadi yang terbuka dan mampu hidup ditengah-tengah kemajemukan masyarakat, baik agama, suku ras maupun golongan.

Yonas Muanley
081388662585 (Bila ada yang keberatan, silakan hubungi saya di nomor ini).

Sumber:Pixabay

Dari Katekese ke Pendidikan Agama Kristen

Pendidikan Kristen kali inimenurunkan tulisan tentang katekese dan PAK dengan ramuan topik: Dari Katekese ke Pendidikan Agama Kristen: Bolehkah kita mengucapkan Selamat Tinggal Katekese?
Kata “katekese” berasal dari kata kerja Yunani “katechein”, artinya menyuarakan dengan keras, menggemakan, atau mengumumkan. Dengan demikian, secara etimologi (asal usul kata), katekese berarti pengajaran lisan. Lalu kapan kata “katekese dipakai”? dan oleh siapa?.





Test blog untuk mengetahui mobile friendly

Pertanyaan di atas tidak mudah dijawab. Saya hanya mengatakan bahwa kata “katekese” pertama kali dipakai dalam Perjanjian Baru, tentu oleh penulis Perjanjian Baru yang adalah murid Yesus. Dengan begitu, kata katekese yang dipakai dalam Perjanjian Baru memiliki makna pengajaran lisan di mana penjelasan yang sangat sederhana diberikan kepada orang-orang seperti secara lembut atau memberi susu dari pada memberi makanan keras yang diberikan kepada anak-anak kecil. Jadi, bila kita menemukan katekse dalam bahasa Yunani yang dipakai dalam Perjanjian Baru maka artinya yaitu menggemakan kembali secara lisan terus berlangsung di gereja mula-mula, dimana hal itu dipahami sebagai nasehat lisan untuk menjalani kehidupan yang bermoral (Thomas H. Groome, 2011: 38-39)

Apakah kita yang Kristen mengatakan “selamat tinggal kata ketekese atau ketekisasi dan kami beralih menggunakan istilah lain seperti ibadah Remaja dan pemuda, atau tetap mempertahankan kata katekese/katekisasi? Tentu bergantung pada kita. Ada gereja-gereja tertentu yang menggunakan kata “katekese atau katekisasi”, ada pula yang tidak menggunakan kata katekisasi namun memakai istilah lain yang maknanya sama.





Bagi kita yang berasal dari denominasi Gereja Calvinis dan Lutheran, katekese nampaknya sulit dilepaskan, bila dilepaskan maka terasa sedih di hati, bahkan mungkin tidak terima jika kata itu tidak dipakai lagi.
Kita kenal ada pelaksanaan pengajaran iman Kristen di gereja bagi mereka yang akan diterima menjadi anggota gereja, yaitu melalui katekisasi dan akhir dari katekisasi yang berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama, lalu diadakan sidi (peneguhan) bagi sejumlah pemuda-pemudi yang telah mengikuti katekisasi.

Ada sejumlah pengajaran iman Kristen yang diajarkan oleh pendeta atau pendeta yang dikhususkan dalam pengajaran untuk mengajarkan para pemuda tentang iman Kristen atau doktrin Kristen, kemudian setelah dievaluasi bahwa peserta katekisasi telah mampu dengan sejumlah pengaran tentang pokok-poko iman Kristen dan ditahbiskan atau tepatnya disidi menjadi warga gereja dengan status anggota gereja dari gereja Yesus Kristus.

Jadi, apakah kita meninggalkan katekese dan beralih ke Pendidikan AGama Kristen? Saya kira dua-duanya jalan. Yang satu berlangsung di Gereja, sedangkan Pendidikan Agama Kristen berlangsung di satuan pendidikan formal seperti SD, SMP, SMA/SMK, serta perguruan tinggi berbentuk: Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi. Dengan demikian saya kira tidak ada selamat tinggal katekisasi tetapi selamat menekuni katekisasi sampai imanmu kokoh di dalam Yesus Kristus.

Salam